jiki ramdani blog
tidak seperti dulu lagi, dulu berwarna merah sekarang berwarna pink, mungkin karena warna merah sudah bertemu dgn warna putih jadi berubah menjadi warna pink, tidak mengapa walau begitu, asalkan aku masih tetap bisa melihat sisa warna merah didalam warna pink, aku senang, [ warna mu : by jiki ramdani 14/01/2010]

jika Hujan memenuhi samudra kabut, terpaksa aku harus berlabuh di ujung pasir dan ketika perahu tenggelam mungkin itulah akhir batas kesanggupan fikiranku untuk mengumpulkan jutaan kenangan yang berkilau di setiap sisa air hujan yang mengembun dipagi yg berkabut ( jiki.ramdani/16/01/2010/ "kabut dibatas kesanggupan fikiranku")

tentang aku dan keakuanku yg mati karena dipaku oleh kelakuanku yang tak berlaku, tentang aku dan keakuanku yang binasa karena dipagut oleh alasan. tentang aku dan keakuanku yang dilupakan dan ditinggalkan karena waktu. tentang aku dan keakuanku yang mengeluh tapi tak berpeluh. "tentang aku dan keakuanku" (jiki.ramdani)

tentang aku yang mengeluh tapi tidak berpeluh namun luluh dan lusuh. siapa yang mau perduli tentang aku, keakuanku dan kelakuanku. aku memang mengeluh tapi mencoba agar tidak berpeluh namun aku tampak lusuh dan luluh meski tanpa peluh. aku bersyukur tanpa harus mengukur. dan aku harus mengukur agar aku bersyukur. "mengeluh tanpa peluh"

aku diberi tanda petik diawal percakapan mereka. aku diberi tanda kurung dan tutup diantara ribuan kalimat yg membentuk deretan paragraf didalam buku setebal lima ratus halaman. aku digaris bawahi ketika aku dicatat didalam memori mereka. dan aku dicoret, dihapus dan diganti dengan kata bukan aku tapi kamu.

aku bukan pejuang tapi aku berjuang demi bangsaku. aku bukan pahlawan tapi aku melawan demi bangsaku. aku bukan pejuang dan juga bukan pahlawan tetapi aku berjuang dan melawan demi bangsaku, karena dipunggungku ada sepasang sayap burung garuda..( jiki.ramdani)

suasana ini masih sama seperti 4, 5, 6, 7 atau 8 tahun yang lalu. Pagi ini, Siang ini, sore ini dan malam ini masih sama seperti 4, 5, 6, 7 atau 8 tahun yang lalu. aku yakin tahun-tahun berikutnya adalah tahun-tahun yang paling cemerlang dalam hidupku. dan untuk mewujudkannya dengan cara bersemangat, tersenyum, berusaha dan berdoa..

samdura langit dikota bogor, sore ini tampak begitu cantik. cahaya lembayung beradu warna dengan kabut muram di sisi kanan. warna keemasan lembayung senja memudarkan kecemasan hati masyarakat kota bogor yang risau akan hujan. semburan lembayung senja laksana kereta kencana. bangunan tua tampak berkilauan. bogor adalah kota kenangan, kota yg cantik (by:jikiramdani)

Pagi ini di kota Bogor, hujan turun membasahi gedung2 tua, suasana dingin diantara pandangan setengah berkabut mengecilkan semangatku untuk bangkit dari lamunanku. hangatnya air teh, lezatnya pisang goreng membuat hati setengah merajuk kepada bantal. inilah suasana lain yg ada di kota Bogor yang cantik, namun banyak or...ang yang tak menyadari bahwa Bogor kota yg manis (jiki.ramdani)

Suasana malam ini sama seperti suasana malam 5 tahun yang lalu. hanya ditemani kesanggupan yang berbatas pada keluhan. lumrah jika manusia mengeluh, aku yakin semua ada masanya. kelahiran, kehidupan, kematian, kejayaan, kehancuran, kebahagiaan dan kesedihan merupakan hal yg pasti. jadi bersabarlah wahai hati..(jiki)

aku mengalah biar tak kalah. dan aku ingin menang biar senang. aku tetap bangkit biar tak sakit. aku sedih juga pedih. bila aku menangis aku tak manis. bila aku sedih aku jadi perih. bila aku menangis aku tak manis. dan aku ingin menang biar aku senang. bimbang jadi gamang..wajah kusam jadi masam. walau sakit aku te...tap bangkit.. kata ayah kalau aku menangis nanti wajahku tak manis..{by:jiki.ramdani}

fikiranku tersesat diantara jalinan kusut urat syaraf otakku. dunia seperti berada dalam kotak pandora. mungkin sudah terlalu jauh aku melangkah. tapi apakah pantas jika aku menegaskan kata dalam kalimat dengan ukuran terlalu dan sangat. ini bukan keluhan juga bukan penyesalan tetapi cuma pengulangan dan penegasan dari... phrase atau idiom agar aku faham apa arti hidup yg sebenarnya (jiki.ramdani)

"ini bukan keluhan atau penyesalan tetapi pengulangan dari penegasan" (jiki)

Aku lelah berkalung duka dipagi buta, mungkin ini adalah akhir dari batas kesanggupanku di antara perbatasan mimpi dan angan-angan ku yang menjuntai hingga kebatas kaki langit, aku lelah berkalung ambisi yang tanpa terbalas. dan bila tinta takdirku telah tergores dalam buaian sendu sang senja, harus kemana aku berayun? (by:jikiramdani)

Namun aku selalu bertanya dalam setiap ukiran tinta takdir jiwaku dalam lembaran kehidupan, aku lelah berkalung tawa tanpa senyum, kapan aku akan memiliki sayap untuk terbang melintasi ruang waktu yang amat kejam, aku lelah berkalung setia tanpa balas dalam kehidupan yang begitu cepat berjalan meninggalkan aku dan keak...uanku. telah aku tafsirkan kuasakan tanpa batasan redup dan buram (jiki ramdani)
jiki ramdani blog
1
tersentap hati mendengar jawapan dari rasa yang ku harapkan.
tersentap hati merasakan getaran cinta yang menggebu lewat nafasmu yg jiwang.
gumpalan rasa yang mengendap-ngendap diantara puluhan tulang rusukku menimbulkan patahan rindu yg menyulitkan jalur urat nadiku hingga ubun ubun membuncah tak peduli seberapa parah hancurnya fikiran karena merindukan wujudmu.
hati pun harus mengerti jika yg tercinta memandang selain rupaku.
hatiku hanya bisa merangkai patahan rindu dan tak mampu memaksamu untuk tetap selalu menjiwangkan nafasmu untuk aku hirup.
asalkan kau tetap menyimpan memori kasih diantara tulang tengkorak kepalamu, aku akan tetap merajut jalinan rasa tentang cinta yg aku palu disetiap ujung dan sisi tulang rangu cintaku,
jiwangnya nafasmu dapat kurasakan meski berjuta juta kilometer aku berada jauh dari jangkauan sinar matamu,
cintaku bernafas dari jiwangnya hatimu.

2
by: jiki ramdani

jauhnya jangkauan rasa tak mampu menghentikan kembang kempis dadaku yang selalu memanggil sang nama.
namun jiwaku sadar akan hatiku yg tak bersayap, ku tak mampu menjamin tetapi ku mencoba membela hatiku untukmu, cinta.
jika rindu dan rasa saling bertemu menimbulkan getaran ngilu yg dapat membunuh rasa benciku.
jiwangnya nafasmu membangkitkan suasana jaman tak berpenghuni.
jiwangnya nafasmu membunuh segala bakteri yg hidup untuk menggerogoti inti hatiku
jika tulang rangu cintaku terbakar menjadi abu, aku akan tetap menciptakan suasana jaman tak berpenghuni agar yang engkau dengar adalah seruanku yg menggila.
jiwangnya nafasmu membentuk kabut tebal ketika hujan tak jadi turun disuatu senja ketika sinar matahari layu begitu saja.

3
By : jiki ramdani

jiwangnya nafasmu menarik ilusi fikiranku kedalam jaman tak berpenghuni
butiran nafas yg mencair dari jiwangnya nafasmu memaksa paru-paruku memompa rindu yg berlebih
sedu sedan kudengar sang dewi mentasbihkan sunyi diujung waktunya
hati berbisik memaksa fikiranku untuk menjiwangkan nafasku.

4
By: jiki ramdani

menghitam rupa langit tadi siang, butiran sejuk berjatuhan mewartakan pilu.
nafasmu merambat masuk kedalam lubang pori-pori kulitku
senyawa nafas yg bernyawa melayang bagai hantu mencari teman diujung malam.
baru kusadari senyawa nafas yg kuhirup adalah jiwamu yg jiwang.
ku peluk lembut lelembut rindumu yg menyembul bagai kabut.
tak perduli meski harus merana, aku akan selalu mentasbihkan namamu ketika dadaku terasa sesak.
jiki ramdani blog
dibulan maret aku melihat pohon randu, bila berbuah membuat aku takjub. rantingnya menggores lingkaran di hati, kulit terkelupas angin berjumpa dgn merah. tapi aku kecewa dengan ombak yang menipuku, meninggalkan kerang yang aku bawa dari kamarku. aku hampir setengah gila karena terlalu lelah menggulung lautan. mulut dan hati cuma tertawa. memang benar kata hatiku, tapi ranting sudah terlanjur memahat sajak ombak didalam lambung dan diantara ujung tulang rusukku. aku menipu dia hingga dia cemas setengah matang, karena dia pantas menggunakan mahkota yang aku buat dari jerami. tapi aku selalu mempertanyakan wujud dia, hingga air liurku menetes seperti seekor anjing gila. jangan pernah mempermainkan raja, nanti aku bisa membunuhmu dengan mataku yang tajam. sadisnya aku tapi aku suka.. jadi lucu setengah matang sekarang dia mewujud dan berani berkata, kemunculannya sempat membuat aku panik tapi itu sama sekali tak akan pernah bisa menumbuhkan pohon randu yang aku anggap sudah tumbang...kemunculannya sama sekali tidak membuat aku panik.. terkesan biasa biasa saja.. ( jiki ramdani. 24 desember 2009)
jiki ramdani blog
tahun baru ku
by : jiki ramdani

esok tahun baru, aku tak sesibuk kawan-kawanku yg meniup terompet dan menyalakan kembang api di jalan raya.
aku cuma duduk didepan jendela sambil berharap dapat melihat percikan kembang api yang cantik.
aku tak punya pulsa untuk membalas SmS kawan kawanku yg yg bertema tahun baru.
aku tak sesibuk kawan kawanku yg tengah siap menyantap makanan lezat untuk menyambut tahun baru.
aku cuma menghirup angin yg dingin.
tak ada yang menemaniku, cuma aku dan hantu dirumah ini yg diam.
sempat terucap dari mulut kepada sebilah pisau tentang duka yg masih menggantung di leherku.
inilah suasana dimalam tahun baru ku,
jiki ramdani blog
by jiki ramdani

seperti biasa tak ada yg ramai didepan mataku, dan aku pun tak sedang sibuk bermain atau pun berkumpul, memang harus begitu keadaanya, kataku.
aku tak sedang menyalakan kembang api atau meniup terompet, aku tak sedang berbuat apa apa. mungkin menunggu tapi tak pasti apa yg ditunggu.
aku mengantuk saja, memang itu keinginanku.
aku ingin tidur sambil memeluk harapan dan cita-cita agar tercapai tahun ini.
selamat malam tahun 2009 ku yg segera berakhir, selamat malam. aku ingin bermimpi diakhir malam tahun 2009. dan terbangun ditahun 2010.
jiki ramdani blog
di Perbatasan antara hari kemarin, sekarang dan mungkin juga esok
karya jiki ramdani
bogor, 6 januari 2010

ini adalah tentang suasana yang mungkin hanya aku saja yang bisa merasakan
ini juga tentang rasa yang aku rasakan disepanjang tahun yang sudah berlalu dan mungkin akan berlanjut hingga tahun tahun berikutnya,
aku tahu aku tidak bisa terus memikirkan tentang pohon bombax ceiba
aku juga tidak bisa memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa melipat lautan yang begitu meluas
terpaksa aku tanggalkan segala rasa yang pernah membuat jantung ini terkejut karena merindu
terpaksa aku tanggalkan segala harapan yang terus saja menusuk tulang tengkorak kepalaku
aku sedikit gamang dan mungkin akan lunglai hingga tidak ada satupun jiwa yang mendekatiku untuk memagut betapa gusarnya ruang lambungku,
aku sedikit gamang, risau dan mungkin terdiam dalam jutaan fikiran.
aku sadar bahwa semua yang aku lihat hanyalah fatamorgana
apakah kalian tahu bahwa aku selalu berlutut, berdoa dan mungkin bertasbih didalam kecilnya ruang nadiku
jujur aku merindukan kamu, wahai penggetar hatiku
jujur aku merindukan kamu, wahai penggetar hatiku
diperbatasan antara hari kemarin, sekarang dan mungkin juga esok
aku tetap merindukan jiwangnya nafasmu
bahkan diperbatasan antara malam menuju siang
aku selalu gelisah memikirkan ruang lambungku yang semakin menyempit
aku selalu gelisah memikirkan ruang ruang lain didalam tubuhku yang selalu membeku
aku berdiri diantara perbatasan malam dan pagi, hari ini dan esok.
perbatasan? perbatasan? perbatasan
aku tirakat dan memagut bathinku bersama sang pemilik raga
aku menulis sajak ini dibawah kumpulan sajak jiwangnya nafasmu
jiki ramdani blog
"segumpalan kabut melayang ringan diatas tanah datar yang memanjang
kubangan rindu terkumpul diantara tulang tengkorak kepalaku
hati mengigau memanggil nama yang tercinta
ketika aku lelah berlayar menerobos samudra kabut
harus kemana aku berlabuh?"
***
hari ini aku sembuh dari sakit demamku, sudah seminggu lamanya aku terbaring dikamar. aku membuka kedua mataku, seberkas sinar matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela kamarku seolah memberiku tenaga untuk bangkit dari kesedihanku yang begitu memanjang. aku tidak tahu ini hari apa, aku berjalan masuk menyusuri setiap ruangan, aku tidak tahu apa yang sedang aku cari, aku merasa seolah kehilangan sesuatu, sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku. aku mendesah ringan dengan penuh kesunyiaan batin.
"zakky sudah sembuh?"tanya ayah kepadaku.
ayah menyentuh kepalaku untuk memastikan apakah demamnya sudah hilang. ayah menyuruhku untuk duduk, aku terpaku menatap ayah, terkadang aku melihat ayah begitu sayang padaku dan terkadang juga aku melihat ayah begitu membenciku, sebenarnya apa yang telah mengubah ayah, aku seperti tidak mengenali ayahku sendiri. ayah dimana ayahku berada?
" zakky membenci ayah?" ayah menundukkan kepalanya kemudian melanjutkan kata-katanya lagi" iya..memang benar zakky sekarang membenci ayah ya..ayah tahu.." ayah tertawa sendiri.
aku diam tak berkata sedikit pun. ayah menatapku, ayah mengangkat daguku..kemudian entah apa yang akan dilakukan oleh ayah. warna muka ayah tiba-tiba berubah menjadi baik, ayah tersenyum. lalu ayah berkata " zakky mau bertemu sama ibu dan arif tidak? kalo mau, ayah akan mengantarkan zakky pergi kesurga, disana zakky akan bertemu ibu dan arif, zakky pasti rindu sangat kan sama ibu dan arif" suara ayah begitu aneh, tersenyum namun ada ketakutan terpancar dari wajahnya. aku mengangguk saja, maklum la aku baru berusia 6 tahun jadi aku tidak tahu apa-apa, aku masih sangat polos, dengan penuh kegembiraan aku berkata
" benarkah ayah akan membawa aku kesurga? surga itu terletak dinegara mana sih yah? zakky pernah mendengar kata surga tetapi zakky belum pernah melihat peta surga, memangnya surga itu jauh ya..tetapi kenapa ibu dan arif dimasukan kedalam tanah..apakah surga itu berada didalam tanah" kata-kataku terdengar polos, ayah tersenyum tetapi penuh kesedihan.
"iya surga itu jauh la...ibu dan arif sekarang tinggal disurga..surga itu tidak bisa dilihat...tetapi ayah tahu bagaimana caranya zakky bisa pergi kesurga...zakky benar-benar mau pergi kesurga?"ayah meyakinkan aku. aku menuruti saja kata-kata ayah dengan mengangguk.
lalu aku diajak ayah masuk kedalam dapur, disana ayah menyuruhku untuk meminum minuman yang telah disediakan oleh ayah, kata ayah minuman ini adalah minuman dari surga dan siapa saja yang meminumnya pasti akan bisa pergi kesurga. aku ragu untuk meminumnya. tiba-tiba jantungku berdegup begitu kencang, tanganku bergetar sangat hebat sekali, samar-samar aku mendengar ada seseorang yang membisikiku untuk tidak meminum minuman itu." jangan diminum zakky..jangan diminum..itu berbhaya..itu racun..itu racun" suara itu semakin lama semakin jelas terdengar ditelingaku. ayah terus membujukku untuk segera menghabiskan minuman itu, ayah terus memaksa aku untuk meminum minuman itu, lalu dengan tak sabar ayah membuka mulutku dengan kedua tangannya, ayah memasukan air racun kedalam mulutku, aku meronta-ronta, tubuhku terasa dicabik-cabik, mulutku mengeluarkan air busa, tubuhku kejang-kejang, ayah lalu memelukku sambil menangis pilu " zakky pasti akan kesurga, maafkan ayah ya anak ku..zakky pasti akan bertemu ibu dan arif disana...tidur la ya...ayah akan memelukmu agar zakky tidur panjang...zakky ingin berjumpa ibu dan arif kan" ayah memelukku erat-erat dan aku meregang nyawa didalam pelukan ayah, jantungku semakin lama semakin melemah, kepalaku pusing, pandangan mataku tampak mengabur, semua tiba-tiba kosong. dan aku merasa tercabut dari jasadku sendiri, sebelum aku menutup mata, aku mendengar ayah berteriak kesetanan " anakku zakky sudah mati...aku telah membunhnya...aku telah membunuh anakku sendiri..dia telah pergi...zakky anakku yang tersayang telah mati...aku telah membunhnya.." ayah berteriak, tubuh ayah lemas sekali. ayah memandangiku sambil menangis lalu ayah berlari membawa aku kerumah sakit. tubuh ayah gemetaran. dalam hati ayah terus berteriak " bangun zakky..bangun zakky...ayah hilaf..ayah hilaf..zakky harus hidup lagi..harus harus.." didalam rumah sakit aku dimasukkan kedalam ruangan gawat darurat. apakah aku sudah mati? entahlah ketika itu aku merasa seperti terbang kesuatu tempat, tempat yang begitu asing yang belum pernah aku temui, aku..entah berada dimana sekarang.


by: jiki ramdani
jiki ramdani blog
seminggu setelah kepergian ibu dan arif kehidupan ayah mulai tak jelas, ayah mulai sering pulang malam dengan alasan kerja lembur. aku sering ditinggal sendiri dirumah. ayah berangkat kerja pukul 6:00 pagi dan pulang pukul 9:30 malam, biasanya ayah berangkat kerja pukul 7:00 pagi dan pulang 17:00 sore hari,namun setelah kepergiaan ibu dan arif semuanya benar-benar berubah dengan drastis. ayah seolah tak ada waktu untukku, bahkan hari-hari libur yang biasanya ayah gunakan untuk bermain denganku pun kini tak akan lagi ada dan tak akan pernah lagi ada.
"ayah pulang kerja jam berapa malam ini?" seperti itulah aku selalu bertanya setiap kali sempat berjumpa dengan ayah. dan ayah selalu menjawab dengan nada datar" tak tentu, mungkin larut, ayah sibuk la zakky, ayah harap zakky bisa memahami akan kesibukan ayah ini ya" kata ayah, cuma kata-kata itu saja yang selalu ayah jawab ketika aku tanya jam berapa ayah pulang.
hari ini aku mencoba untuk tidak tidur sebelum ayah pulang, aku rindu sekali sama ayah, rindu akan saat-saat bersama ayah dulu, dengan sabar aku menunggu ayah diruang tamu, aku menengok jam dinding, arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:00 malam. tak terasa aku menunggu hingga larut malam begini, mataku tak kuat menahan rasa kantuk yang terus merayapi kedua mataku ini hingga aku tertidur disofa.
suara mesin mobil ayah perlahan-lahan aku dengar ditengah mimpiku, suara mesin mobil ayah semakin lama semakin jelas kudengar. aku bangkit dari tidurku, aku mengucek kedua mataku dan berlari keluar untuk membuka pintu. begitu pintu kubuka ayah sudah berada tepat dihadapanku.
"ayah.." teriak aku sambil berlari kedalam pelukan ayah
"zakky belum tidur?"
"zakky menunggu ayah, zakky rindu sama ayah"
aku membantu ayah membawakan tas kantor ayah. ayah menutup pintu, aku meletakkan tas ayah diatas meja kerja ayah.
"cepat pergi tidur, ini sudah larut malam" nada suara ayah begitu berat, garis lelah terbentang disetiap wajah ayah yang kusam.
"zakky rindu sama ayah" kata aku sambil memeluk ayah. ayah melepaskan pelukan aku, ayah menangkis tangan aku seraya berkata dengan nada dengan membentak " cepat pergi tidur" ayah membentak aku dengan suara tinggi. ini kali pertamanya ayah membentak aku dengan nada suara yang begitu tinggi.
"tidak mau" wajahku memelas dan sedikit menitikkan airmata. ayah menarik tangan aku lalu menyeret aku kedalam kamar aku, ayah melepaskan tangan aku sambil berkata dengan nada sedikit marah" tidur..kalo tidak tidur ayah akan pukul zakky..zakky faham" setelah berkata seperti itu ayah lalu menutup kamar aku. aku diam, ini kali pertama ayah membentak aku dengan begitunya. padahal aku ingin sekali bercakap-cakap panjang-panjang dengan ayah. ayah tidak menyapaku, ayah tidak menanyakan kabar aku, dan ayah tidak mencium pipiku lagi. ada apa dengan ayah? aku terus bertanya-tanya dalam hati hingga aku tertidur lelap.
keesokan paginya begitu aku bangun ayah sudah tidak lagi berada dirumah, ayah sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali sebelum aku bangun. aku ingin sekali bersama ayah dipagi hari seperti ini. kapan ayah akan punya waktu seperti dulu lagi? itulah pertanyaan yang selalu melayang-layang didalam ubun-ubun kepalaku. ah..aku mendesah ringan dengan penuh kepiluan hati.
***
lagi, malam ini aku menunggu ayah pulang . aku benar-benar rindu sama ayah. aku ingin makan bersama ayah, dan ayah pun sudah mulai jarang menyapaku begitu juga menatap wajahku, kali ini aku tidak tertidur disofa, aku terus menunggu hingga larut malam. dan tepat pada pukul 11 malam ayah baru pulang. ayah tidak menatap aku, ayah berlalu begitu saja kedalam kamar meskipun aku berkali-kali memanggil ayah, ayah tetap saja berlalu tanpa menatap wajah aku sdikit pun. aku mengetuk pintu kamar ayah" ayah...ayah..zakky rindu sama ayah" dan ayah membuka pintu.
"zakky semakin lama semakin nakal ya...zakky mau ayah pukul ya" ayah lalu keluar dari kamar ayah sambil membawa sapu" cepat pergi tidur kalo tidak ayah akan memukulmu"
aku menggeleng-gelengkan kepala seraya menangis " zakky rindu sama ayah" aku mengembangkan kedua tanganku untuk memeluk ayah, ayah malah memukul kaki ku dengan amat keras, aku menahan rasa sakit, aku menangis tanpa bersuara. ayah menyeret aku kedalam dapur lalu memukuli tubuh ku berkali-kali, setelah itu ayah membenamkan kepala aku kedalam bak air mandi yang begitu dingin, aku meronta-ronta, aku sulit bernafas, berkali-kali aku berteriak dan menangis tetapi ayah semakin ganas menyiksa aku. setelah itu kepalaku dibenturkan kedinding hingga berdarah, ayah mengambil sebilah pisau lalu mendekatkan pisau itu kearah leherku.
tangan ayah bergetar memegangi pisau itu " pisau ini akan memotong kepala zakky kalo zakky nakal dan tidak patuh sama ayah. ayah tidak punya waktu untuk mu lagi zakky, zakky tau tidak pekerjaan ayah sangat banyak sekali, ayah sibuk sangat, ayah pusing memikirkan pekerjaan ayah, zakky faham..kalo zakky faham cepat sekarang pergi tidur"
aku menatap mata ayah, sinar mata ayah begitu redup begitu berapi-api, seolah orang yang ada dihadapanku ini bukanlah ayah melainkan orang lain. apakah ini ayahku? apakah ini benar ayahku? apakah ini ayah ku? aku bangkit lalu berjalan dengan langkah pelan sambil menahan rasa sakit dikepala dan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhku, tubuhku membiru, darah terus saja menetes tiada henti dari kepalaku, aku menangis karena sakit sekali. aku mencoba mengobati luka-luka itu dengan tanganku sendiri. aku membalut dan membungkus kepalaku dengan kain seadanya agar darah yang menetes itu berhenti, aku menangis sambil terpaku mengingati wajah ayah yang begitu berbeda, wajah ayah yang begitu lain.. menangis pun percuma saja tak akan bisa mengubah semua keadaan ini. aku mencoba untuk tidur sambil mengingati masa-masa dulu ketika ayah memeluk dan mencium pipiku dengan amat sayangnya kepadaku, aku membawa kenangan itu hingga kedalam mimpiku dan berharap dapat menghapus sedikit rasa perih dari luka yang menganga disetiap tubuhku ini.

keesokan harinya aku sakit parah. aku demam tinggi. seharian aku tidur dan belum makan sesuap nasi pun, tak ada tenaga untuk berjalan. ayah memanggil namaku berkali-kali tetapi aku tidak menyahutnya karena aku tertidur pulas sambil menggigil karena demam tinggi. ayah masuk kedalam kamarku dan menemukan aku tertidur dengan amat pulasnya, ayah melihat kedua tanganku bergetar dengan sangat hebat. ayah mengamatiku dan menyentuh kepala aku, ayah mendesah panjang, tanpa berkata apapun ayah menggendong aku untuk dibawa ke rumah sakit. aku tak sadarkan diri, seluruh wajahku pucat pasi. ayah sama sekali tidak mengeluarkan kata sepatah pun. ayah hanya diam. diam seribu bahasa.


by : jiki ramdani
jiki ramdani blog
ayah berjalan dengan langkah sempoyongan, kedua matanya menerawang jauh kedepan. aku berjalan mengekor mengikuti kemana ayah pergi, setelah lama berjalan akhirnya ayah berhenti tepat didepan pintu kamar mayat rumah sakit, disana jenazah kakak aku, arif, disimpan. ayah membuka pintu itu lalu berjalan masuk, aku dengan langkah kecil mengikuti dari belakang, aku bersembunyi dari balik pintu. aku melihat ayah berdiri memandangi jenazah kakak arif yang ditutupi kain putih. sesekali ayah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, terdengar oleh kedua telingaku ada suara rintihan hati yang menangis yang tertahan dari dalam mulut ayah. aku terpaku,aku juga tak kuasa menahan keadaan seperti ini. aku menghembuskan nafas lalu berlari kesuatu tempat untuk menenangkan diri. disana aku duduk sambil kembali mengingati saat-saat ketika arif masih hidup.
"zakky itu mau jadi ikan" kata arif ketika itu
"benarkah itu ayah?"tanya aku pada saat itu kepada ayah
ayah tersenyum. kemudian tanganku dicubit oleh arif.
"aduh"
"sakit tau"
aku ketika itu langsung menangis. lembaran demi lembaran kenangan tentang arif berputar-putar didalam ubun-ubun kepalaku. cubitan tangan kakak arif seperti masih terasa hingga kini, aku memegangi tanganku yang dulu pernah dicubit oleh kakak arif. aku menangis, butiran air mataku membasahi tanganku. aku lalu berkata dengan menahan isak tangis yang meburu " kakak arif,cubit aku lagi...kalo kakak arif tidak ada lalu siapa yang akan mencubit tangan aku..aku rindu cubitan kakak...aku ingin bersama kakak arif yang nakal itu..aku ingin ada kakak arif hari ini...kakak arif...zakky..zakky benar-benar sayang sama kakak arif..zakky tidak bohong tau...zakky serius tau...zakky merindukan kakak arif...kakak arif..kakak arif..kakak arif" aku menangis sekuat-kuatnya. dari kejauhan ayah melihatku, ayah lalu datang langsung memeluk aku. aku menangis dalam pelukan ayah. ayah memelukku dengan sangat erat.
***
"hasil pemeriksaan sementara..isteri anda mengalami komplikasi yang cukup parah...menurut hasil pemeriksaan kami..isteri anda keguguran..ia tengah hamil dua bulan..ditambah lagi ia memiliki penyakit jantung yang sangat kronis...isteri anda juga memiliki penyakit leukemia stadium 2" kata dokter faisal
ayah terdiam, mulutnya bergetar " isteriku hamil dua bulan" antara percaya dan tidak ayah tertawa sendiri lalu ayah berkata lagi" dan isteriku keguguran,dan itu berarti dua nyawa telah pergi, aku ....aku telah kehilangan anak-anakku.." ayah bergetar ketakutan
"isteriku pasti akan baik-baik saja kan dokter?"
dokter itu menggelengkan kepalanya, tampak ada sedikit keraguan diwajah dokter faisal
"peluang untuk hidup hanya 2%...dan itu pun belum pasti...dia tidak bisa bertahan lama"
ayah menarik lengan dokter faisal, digenggamnya erat-erat lengan dokter faisal, jantung ayah berdetak tak beraturan" sembuhkan isteriku dok..aku mohon..aku mohon...berapa pun biayanya akan aku bayar..aku mohon..aku mohon" ayah menangis
"saya hanya manusia biasa, saya akan berusaha menyelamatkan isteri anda...berdoa lah...keputusan akhir hanya tuhan yang menentukan bukan saya..."

aku melihat ayah tampak murung, wajahnya kusam, terlihat ada garis lelah yang terbentang diwajah ayah. besok adalah hari pemakaman kakak arif, aku tahu ayah sangat sedih sekali. keadaan ibu tak pasti, entah baik atau tidak.

tepat pada jam11 malam aku dibangunkan oleh ayah, aku dibawa kekamar ibu, aku melihat ibu sedang berusaha mencoba untuk bangkit sambil dibantu oleh ayah, ibu tampak kurus sekali. wajah ibu tak berwarna, pucat pasi tetapi aku menemukan seulas senyuman hangat mengembang diwajahnya. ibu memeluk aku dengan lembutnya,ibu mengsusap kepala aku.
"zakky anak ibu yang tersayang, zakky anak ibu yang tersayang, zakky tampak kurus sekali, sudah makan belum sih?"
"sudah bu"
ibu tersenyum hangat sekali, sinar matanya mengalahkan rasa kantuk yang merayap didalam mataku. sinar mata ibu seolah memberikan semangat yang begitu besar tetapi mengapa aku merasakan bahwa sinar ini tak akan pernah lagi bisa aku lihat..sinar mata ibu..aku mencoba menatap mata ibu lebih dalam..mata ibu seolah berbicara sesuatu yang tak aku fahami.
"sekarang sudah malam, zakky tidur lah..zakky tidak boleh tidur lewat..zakky harus cepat-cepat tidur" aku menguap berkali-kali, ayah membawa aku kekamar untuk tidur.
setelah aku tidur ayah kembali kekamar ibu, disana ayah dan ibu bercakap-cakap.
"kenapa ibu tidak bilang sama ayah bahwa ibu sedang hamil 2 bulan, kalo ayah tahu ibu dalam keadaan seperti ini tentu ayah akan membatalkan jalan-jalan itu."
"ibu ingin memberi kejutan untuk zakky, arif dan ayah...ibu sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara kepada kalian...ya sudahlah semua sudah terjadi."
ayah memeluk ibu, mencium kening dan pipi ibu
"ayah takut sekali..ayah sangat takut sekali...berjanjilah untuk tetap hidup untuku dan untuk zakky....ayah tidak mau kehilangan ibu" ibu menutup mulut ayah dengan jari-jemarinya
"siapa bilang ibu akan meninggalkan ayah dan zakky. ibu akan selalu berada bersama kalian"
ayah membenamkan wajahnya didalam jari-jemari ibu.
malam semakin larut, angin berhembus perlahan..daun yang kering berjatuhan dari dahan pohon.

***
ayah berlari-lari sambil berteriak memangil dokter, dua suster langsung bergerak maju kemar ibu. " isteri anda sudah meninggal" bagai mendengar halilintar disiang bolong. ayah bergeter begitu mendengar kata-kata kedua suster itu, ayah berjalan menuju tubuh ibu yang kaku. " kata ibu..ibu tidak akan meninggalkan ayah..kata ibu...ibu tidak akan meninggalkan zakky...ayah mencintai ibu...cintaku padamu begitu luas dan dalam tetapi mengapa ibu pergi...ayah ingin ikut..ayah ingin ikut...tapi..tapi bagaimana dengan zakky..bagaimana dengan zakky...bagaimana caranya untuk memberi tahu bahwa ibu pergi selamanya kepada zakky.................jawab isteriku..ayo jawablah..jawab...jawab..jawab" ayah mengguncang-guncangkan tubuh ibu, tapi ibu tetap saja membisu.
kedua suster itu membawa jenazah ibu kedalam ruangan zenajah, kebetulan disana juga ada zenajah kakak arif yang siap untuk dikebumikan.
ayah sangat sedih sekali, terlebih aku..begitu tahu bahwa ibu pergi untuk selamanya.
air mata seolah tiada henti-hentinya membasahi kedua pipiku...hidup ayah berantakan begitu juga aku.

hari itu juga ibu dan arif dimakamkan, dua orang yang tercinta akan segera dimakamkan. ayah memeluk aku tanpa ada sepatah kata yang terucap, aku mencoba untuk tegar dan kuat. untunglah dihari pemakan itu aku tidak menangis. aku diam dan ayah pun diam. tak ada kata cuma nafas kebekuan yang tercium oleh rasa yang berduka.

setelah ibu dan arif meninggal, cuma aku dan ayah saja yang masih tersisa dirumah ini. rumah yang penuh dengan kenangan manis. ah..aku mendesah kebimbangan karena sukma ini bergetar tiada henti.. dinding-dinding kamar dan seluruh ruangan seolah bercerita tentang suatu masa dimasa lalu..aku dan ayah mulai berantakan..semanjak saat itu ayah menjadi seorang yang pendiam..ayah hanya berkata beberapa patah kata saja..ayah selalu pergi..ayah selalu menyendiri..ayah selalu bekerja dengan kuatnya..mungkin bagi ayah dengan cara seperti itu ayah bisa melupakan segala kenangan yang ada dan yang masih tersisa.

aku? aku mencoba menjadi zakky..zakky yang tak lagi harus menangis..zakky yang tak lagi mendapat ciuman dipipi oleh ayah dan ibu. aku membuka gorden kaca jendela, aku melihat hujan turun dengan amat derasnya. segumpalan kabut menyebar membentuk ornamen bias yang tak biasa. disetiap malam aku menangis, aku selalu memergoki ayah pulang malam hari dalam keadaan mabuk berat. hidup ayah benar-benar berantakan tanpa ibu dan arif. hujan terus saja turun.
jiki ramdani blog
Hari ini ayah mengajak aku, ibu dan kakak arif pergi jalan-jalan kesebuah tempat yang masih ayah rahasiakan, sebelum aku pergi aku memasukan ikan warna-warni yang mati dan yang masih hidup kedalam kotak ikan kecil, dengan perasaan sedih aku memandangi ikan warna-warni itu.
"aku akan membawamu serta, aku ingin kalian tinggal disuatu tempat, jika aku melihat sungai atau kolam maka aku akan memasukan kalian kedalam kolam atau sungai itu, kalian jangan menggangap aku akan membuang kalian, kalian adalah ikan warna-warniku yang terbaik dan tersayang, aku takut kalo kalian tinggal sama aku nanti akan menggaggu pertumbuhan kalian, lihat itu, kawan-kawan kalian yang lainnya mati karena aku tidak begitu memperhatikannya, kalian jangan membenci aku ya, aku sayang sangat sama kalian tau, selamanya kalian akan selalu ada dihatiku wahai ikan warna-warniku yang tersayang" setelah berkata seperti itu, aku menangis, aku melihat dengan seksama ikan warna-warni itu berlarian dengan sedih.
"zakky cepat keluar dari kamarmu, kita sudah menunggumu didalam mobil, kita akan segera berangkat" teriak ayah dari dalam mobil. aku langsung bergegas menemui mereka keluar, aku langsung masuk kedalam mobil, aku duduk dibelakang bersama kakak arif.
"hei zakky apa yang kau bawa itu?"tanya kakak arif sambil menatap kotak ikan warna-warni aku.
"ini ikan warna-warni"jawab aku dengan nada sedikit sedih
"mereka juga ikut dibawa?"
aku hanya mengagguk pelan tanpa berkata sepatah apapun.
mobil melaju dengan cepat, didalam perjalanan aku tertidur, berkali-kali kakak arif membangunkan aku" lah kenapa ni, kok tidur, bangun zakky bangun....lihat pemandangannya indah sekali"arif menyentuh kaca mobil sambil menunjuk kearah depan."lihat ada laut..itu laut zakky..itu laut"kata arif dengan penuh kegirangan.
aku mengucek-ngucek kedua mataku mencoba melihat apa yang dikatakan oleh arif" mana..."
"itu"
"uwaaaa yeyeyeyeyeyey laut" aku berteriak kegirangan, aku senang sekali.
ayah tertawa " ermmmm zakky suka laut ya"
aku menggangguk pelan
ibu menoleh kebelakang sambil berkata" ingat jangan mandi dilaut ya"
aku terkejut mendengar ibu berkata seperti itu, aku memelas untuk meminta izin agar diijinkan mandi dilaut
"yah ibu , mana bisa seperti itu, kaki terasa gatal jika tidak mandi, boleh ya bu, please,please, please, please" pintaku kepada ibu dengan harapan bisa diijinkan mandi dilaut oleh ibu.
"tidak bisa...nanti kalo zakky tenggelam dilaut bagaimana?"
"tapi kan aku akan hati-hati, nanti ada kakak arif yang temani aku mandi disana" aku lalu menoleh kearah kakak arif
"apa?mandi dilaut..aku tidak mau ah..zakky sendiri saja yang mandi dilaut"
aku tiba-tiba marah sendiri, aku menutup wajah aku dengan kain.
"zakky boleh mandi dilaut kok, nanti ayah yang akan temani zakky mandi dilaut"kata ayah.
aku lalu berteriak kencang sekali"horeeeeeee aku akan mandi dilaut bersama ayah..yeyeyeyeyeye....aku akan mandi dilaut..aku akan mandi dilaut..yeyeyeyeyeyeye"
mobil bergerak sangat cepat sekali, tanpa terasa mobil akan menuju pantai, aku dan arif tak henti-hentinya memandangi laut dari dalam mobil, aku sudah tidak sabar ingin mandi dilaut.
akhirnya mobil berhenti dibibir pantai, aku langsung membuka pintu mobil, tak lupa aku membawa kotak yang berisi ikan warna-warni itu.
"zakky apa yang kau bawa itu?"tanya ayah.
"ikan warna-warni"
"mereka ikut dibawa juga yah"
"iya..zakky ingin memasukan mereka kedalam laut boleh tak ?"
"ermmmmmm boleh"
ayah mencium pipi aku sekali.
lalu kami menggelar tikar diatas pasir, ibu mempersiapkan makanan dan minuman, betapa lezatnya makanan dan minuman itu, aku membantu ibu membawa makanan untuk disimpan diatas tikar.
"ibu aku mau ke kesana, melihat laut dari dekat boleh tidak?"
"hati-hati yah"
"ok"
aku lalu pergi ketepi pantai untuk menyaksikan laut dari arah dekat, angin laut bertiup sangat kencang, ombak menggulung-gulung dengan dahsyatnya, burung walet terbang melayang dengan riang mereka bersiul-siulan, aku senang sekali, aku mengeluarkan ikan warna-warni itu dari dalam kotak, satu persatu aku mengeluarkan mereka.
dari kejauhan ayah melambaikan tangannya dan kemudian ayah mendekati aku sambil berlari
"wah zakky sedang apa sih?"tanya ayah
"zakky sedang melepas mereka kealam bebas"
ayah membantu aku melepas ikan itu, ada yang hidup dan ada juga yang mati, aku memeluk ayah, "zakky pasti meridukan mereka"kata aku sedih. ayah mengusap kepala aku pelan-pelan.
"kita mandi disana yuk"
lalu aku dan ayah mandi ditepi pantai, ayah memegangi aku sambil mebawa aku ketengah laut, aku gemetaran, aku sedikit takut sebenarnya, aku menutup mata "ayah aku takut sekali"
"jangan takut kan ada ayah"
aku gemetaran ketakutan, aku memegangi tangan ayah erat-erat. ayah berusaha membujuk aku agar tidak takut.
"wahhhh ayah dan zakky lagi mandi dilaut yah...aku mau juga ah"kata arif, arif dengan cepat berenang dan mendekati kami, maklum lah arif itu sudah cukup besar jadi dia berani berenang. ayah, arif dan aku mandi dan berenang bersama dilaut, kami bermain disana, lama sekali. dari kejauhan ibu berteriak memanggil kami" cepat kemari, sudah waktunya kalian makan, jangan terlalu lama berenang dilaut"teriak ibu dari kejauhan.
lalu kami bergegas menemui ibu, aku melihat begitu banyak sekali makanan yang ada, aku jadi bingung mau makan apa karena aku suka semuanya. kami makan dengan lahapnya hingga tak ada yang tersisa.
sore harinya kami mempersiapkan diri untuk pulang kerumah, sebelum pulang aku mendekati laut sambil berkata" ikan warna-warniku, aku akan selalu merindukan kalian, jaga diri ya, aku akan merindukan kalian, aku akan sangat merindukan kalian, selamat tinggal ikan warna-warniku yang tersayang" aku membalikkan badan lalu masuk kedalam mobil, mesin mobil dihidupkan lalu mobil bergerak perlahan-lahan. tak henti-hentinya aku memandangi pemandangan laut yang semakin lama semakin jauh dari pandangan mataku.
dalam perjalanan menuju pulang hujan turun dengan amat derasnya, perlahan-lahan kabut tipis menyebar hingga ayah kebingungan, ayah berusaha menerobos gumpalan kabut itu, ayah tidak mengira bahwa didepan itu ada sebuah mobil yang sedang diparkir, karena kaca depan mobil tak terlihat akhirnya ayah menabrak mobil itu.
****
aku tidak ingat apa yang terjadi berikutnya, aku merasa entah berada dimana, semua tampak gelap dan kosong, kepalaku terasa sakit sekali, aku mencoba membuka kedua mataku perlahan-lahan, aku melihat cahaya lampu yang begitu terang, cahaya lampu itu menyilaukan pandangan mataku, setelah beberapa saat kemudian baru aku sadar bahwa aku tengah berada didalam rumah sakit, kepalaku diperban sangat tebal, lengan kiriku diperban, aku lalu terkejut, dengan sisa-sisa kekuatan yang aku punya aku bangkit dari tempat tidurku untuk mencari tahu dimana ayah, ibu dan kakak arif. aku merasa takut sekali. aku menemui ayah, baju ayah penuh dengan darah, kepala ayah diperban. ayah memberitahukan aku bahwa kakak arif telah meninggal dunia, kakak arif mengeluarkan banyak darah, stok darah dirumah sakit tidak mencukupi hingga kakak arif tak kuat dan meninggal dunia. aku sedih sekali, aku benar-benar ingin menjerit, aku ingin menangis dan mengeluarkan semua airmata yang ada didalam mataku ini, aku lemas sekali. aku lalu bertanya" ayah ibu tidak apa-apakan? ibu pasti baik-baik saja kan?"tanya aku sambil berurai airmata. ayah hanya diam, ayah menggeleng-gelengkan kepala" entah lah, ibu sedang koma, keadaan ibu sangat kritis, zakky berdoa saja ya, ayah tidak bisa berkata apa-apa sama zakky, ayah sedang sedih, ayah kehilangan putra ayah yang pertama, arif kenapa kamu harus meninggal sih"kedua mata ayah menitikkan airmata, aku memeluk ayah erat-erat.
hari itu adalah permulaan dari lembaran kisah sedihku yang mendalam.
esok, entahlah apa yang akan terjadi?