jiki ramdani blog
by jiki ramdani

seperti biasa tak ada yg ramai didepan mataku, dan aku pun tak sedang sibuk bermain atau pun berkumpul, memang harus begitu keadaanya, kataku.
aku tak sedang menyalakan kembang api atau meniup terompet, aku tak sedang berbuat apa apa. mungkin menunggu tapi tak pasti apa yg ditunggu.
aku mengantuk saja, memang itu keinginanku.
aku ingin tidur sambil memeluk harapan dan cita-cita agar tercapai tahun ini.
selamat malam tahun 2009 ku yg segera berakhir, selamat malam. aku ingin bermimpi diakhir malam tahun 2009. dan terbangun ditahun 2010.
jiki ramdani blog
di Perbatasan antara hari kemarin, sekarang dan mungkin juga esok
karya jiki ramdani
bogor, 6 januari 2010

ini adalah tentang suasana yang mungkin hanya aku saja yang bisa merasakan
ini juga tentang rasa yang aku rasakan disepanjang tahun yang sudah berlalu dan mungkin akan berlanjut hingga tahun tahun berikutnya,
aku tahu aku tidak bisa terus memikirkan tentang pohon bombax ceiba
aku juga tidak bisa memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa melipat lautan yang begitu meluas
terpaksa aku tanggalkan segala rasa yang pernah membuat jantung ini terkejut karena merindu
terpaksa aku tanggalkan segala harapan yang terus saja menusuk tulang tengkorak kepalaku
aku sedikit gamang dan mungkin akan lunglai hingga tidak ada satupun jiwa yang mendekatiku untuk memagut betapa gusarnya ruang lambungku,
aku sedikit gamang, risau dan mungkin terdiam dalam jutaan fikiran.
aku sadar bahwa semua yang aku lihat hanyalah fatamorgana
apakah kalian tahu bahwa aku selalu berlutut, berdoa dan mungkin bertasbih didalam kecilnya ruang nadiku
jujur aku merindukan kamu, wahai penggetar hatiku
jujur aku merindukan kamu, wahai penggetar hatiku
diperbatasan antara hari kemarin, sekarang dan mungkin juga esok
aku tetap merindukan jiwangnya nafasmu
bahkan diperbatasan antara malam menuju siang
aku selalu gelisah memikirkan ruang lambungku yang semakin menyempit
aku selalu gelisah memikirkan ruang ruang lain didalam tubuhku yang selalu membeku
aku berdiri diantara perbatasan malam dan pagi, hari ini dan esok.
perbatasan? perbatasan? perbatasan
aku tirakat dan memagut bathinku bersama sang pemilik raga
aku menulis sajak ini dibawah kumpulan sajak jiwangnya nafasmu
jiki ramdani blog
"segumpalan kabut melayang ringan diatas tanah datar yang memanjang
kubangan rindu terkumpul diantara tulang tengkorak kepalaku
hati mengigau memanggil nama yang tercinta
ketika aku lelah berlayar menerobos samudra kabut
harus kemana aku berlabuh?"
***
hari ini aku sembuh dari sakit demamku, sudah seminggu lamanya aku terbaring dikamar. aku membuka kedua mataku, seberkas sinar matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela kamarku seolah memberiku tenaga untuk bangkit dari kesedihanku yang begitu memanjang. aku tidak tahu ini hari apa, aku berjalan masuk menyusuri setiap ruangan, aku tidak tahu apa yang sedang aku cari, aku merasa seolah kehilangan sesuatu, sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku. aku mendesah ringan dengan penuh kesunyiaan batin.
"zakky sudah sembuh?"tanya ayah kepadaku.
ayah menyentuh kepalaku untuk memastikan apakah demamnya sudah hilang. ayah menyuruhku untuk duduk, aku terpaku menatap ayah, terkadang aku melihat ayah begitu sayang padaku dan terkadang juga aku melihat ayah begitu membenciku, sebenarnya apa yang telah mengubah ayah, aku seperti tidak mengenali ayahku sendiri. ayah dimana ayahku berada?
" zakky membenci ayah?" ayah menundukkan kepalanya kemudian melanjutkan kata-katanya lagi" iya..memang benar zakky sekarang membenci ayah ya..ayah tahu.." ayah tertawa sendiri.
aku diam tak berkata sedikit pun. ayah menatapku, ayah mengangkat daguku..kemudian entah apa yang akan dilakukan oleh ayah. warna muka ayah tiba-tiba berubah menjadi baik, ayah tersenyum. lalu ayah berkata " zakky mau bertemu sama ibu dan arif tidak? kalo mau, ayah akan mengantarkan zakky pergi kesurga, disana zakky akan bertemu ibu dan arif, zakky pasti rindu sangat kan sama ibu dan arif" suara ayah begitu aneh, tersenyum namun ada ketakutan terpancar dari wajahnya. aku mengangguk saja, maklum la aku baru berusia 6 tahun jadi aku tidak tahu apa-apa, aku masih sangat polos, dengan penuh kegembiraan aku berkata
" benarkah ayah akan membawa aku kesurga? surga itu terletak dinegara mana sih yah? zakky pernah mendengar kata surga tetapi zakky belum pernah melihat peta surga, memangnya surga itu jauh ya..tetapi kenapa ibu dan arif dimasukan kedalam tanah..apakah surga itu berada didalam tanah" kata-kataku terdengar polos, ayah tersenyum tetapi penuh kesedihan.
"iya surga itu jauh la...ibu dan arif sekarang tinggal disurga..surga itu tidak bisa dilihat...tetapi ayah tahu bagaimana caranya zakky bisa pergi kesurga...zakky benar-benar mau pergi kesurga?"ayah meyakinkan aku. aku menuruti saja kata-kata ayah dengan mengangguk.
lalu aku diajak ayah masuk kedalam dapur, disana ayah menyuruhku untuk meminum minuman yang telah disediakan oleh ayah, kata ayah minuman ini adalah minuman dari surga dan siapa saja yang meminumnya pasti akan bisa pergi kesurga. aku ragu untuk meminumnya. tiba-tiba jantungku berdegup begitu kencang, tanganku bergetar sangat hebat sekali, samar-samar aku mendengar ada seseorang yang membisikiku untuk tidak meminum minuman itu." jangan diminum zakky..jangan diminum..itu berbhaya..itu racun..itu racun" suara itu semakin lama semakin jelas terdengar ditelingaku. ayah terus membujukku untuk segera menghabiskan minuman itu, ayah terus memaksa aku untuk meminum minuman itu, lalu dengan tak sabar ayah membuka mulutku dengan kedua tangannya, ayah memasukan air racun kedalam mulutku, aku meronta-ronta, tubuhku terasa dicabik-cabik, mulutku mengeluarkan air busa, tubuhku kejang-kejang, ayah lalu memelukku sambil menangis pilu " zakky pasti akan kesurga, maafkan ayah ya anak ku..zakky pasti akan bertemu ibu dan arif disana...tidur la ya...ayah akan memelukmu agar zakky tidur panjang...zakky ingin berjumpa ibu dan arif kan" ayah memelukku erat-erat dan aku meregang nyawa didalam pelukan ayah, jantungku semakin lama semakin melemah, kepalaku pusing, pandangan mataku tampak mengabur, semua tiba-tiba kosong. dan aku merasa tercabut dari jasadku sendiri, sebelum aku menutup mata, aku mendengar ayah berteriak kesetanan " anakku zakky sudah mati...aku telah membunhnya...aku telah membunuh anakku sendiri..dia telah pergi...zakky anakku yang tersayang telah mati...aku telah membunhnya.." ayah berteriak, tubuh ayah lemas sekali. ayah memandangiku sambil menangis lalu ayah berlari membawa aku kerumah sakit. tubuh ayah gemetaran. dalam hati ayah terus berteriak " bangun zakky..bangun zakky...ayah hilaf..ayah hilaf..zakky harus hidup lagi..harus harus.." didalam rumah sakit aku dimasukkan kedalam ruangan gawat darurat. apakah aku sudah mati? entahlah ketika itu aku merasa seperti terbang kesuatu tempat, tempat yang begitu asing yang belum pernah aku temui, aku..entah berada dimana sekarang.


by: jiki ramdani
jiki ramdani blog
seminggu setelah kepergian ibu dan arif kehidupan ayah mulai tak jelas, ayah mulai sering pulang malam dengan alasan kerja lembur. aku sering ditinggal sendiri dirumah. ayah berangkat kerja pukul 6:00 pagi dan pulang pukul 9:30 malam, biasanya ayah berangkat kerja pukul 7:00 pagi dan pulang 17:00 sore hari,namun setelah kepergiaan ibu dan arif semuanya benar-benar berubah dengan drastis. ayah seolah tak ada waktu untukku, bahkan hari-hari libur yang biasanya ayah gunakan untuk bermain denganku pun kini tak akan lagi ada dan tak akan pernah lagi ada.
"ayah pulang kerja jam berapa malam ini?" seperti itulah aku selalu bertanya setiap kali sempat berjumpa dengan ayah. dan ayah selalu menjawab dengan nada datar" tak tentu, mungkin larut, ayah sibuk la zakky, ayah harap zakky bisa memahami akan kesibukan ayah ini ya" kata ayah, cuma kata-kata itu saja yang selalu ayah jawab ketika aku tanya jam berapa ayah pulang.
hari ini aku mencoba untuk tidak tidur sebelum ayah pulang, aku rindu sekali sama ayah, rindu akan saat-saat bersama ayah dulu, dengan sabar aku menunggu ayah diruang tamu, aku menengok jam dinding, arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:00 malam. tak terasa aku menunggu hingga larut malam begini, mataku tak kuat menahan rasa kantuk yang terus merayapi kedua mataku ini hingga aku tertidur disofa.
suara mesin mobil ayah perlahan-lahan aku dengar ditengah mimpiku, suara mesin mobil ayah semakin lama semakin jelas kudengar. aku bangkit dari tidurku, aku mengucek kedua mataku dan berlari keluar untuk membuka pintu. begitu pintu kubuka ayah sudah berada tepat dihadapanku.
"ayah.." teriak aku sambil berlari kedalam pelukan ayah
"zakky belum tidur?"
"zakky menunggu ayah, zakky rindu sama ayah"
aku membantu ayah membawakan tas kantor ayah. ayah menutup pintu, aku meletakkan tas ayah diatas meja kerja ayah.
"cepat pergi tidur, ini sudah larut malam" nada suara ayah begitu berat, garis lelah terbentang disetiap wajah ayah yang kusam.
"zakky rindu sama ayah" kata aku sambil memeluk ayah. ayah melepaskan pelukan aku, ayah menangkis tangan aku seraya berkata dengan nada dengan membentak " cepat pergi tidur" ayah membentak aku dengan suara tinggi. ini kali pertamanya ayah membentak aku dengan nada suara yang begitu tinggi.
"tidak mau" wajahku memelas dan sedikit menitikkan airmata. ayah menarik tangan aku lalu menyeret aku kedalam kamar aku, ayah melepaskan tangan aku sambil berkata dengan nada sedikit marah" tidur..kalo tidak tidur ayah akan pukul zakky..zakky faham" setelah berkata seperti itu ayah lalu menutup kamar aku. aku diam, ini kali pertama ayah membentak aku dengan begitunya. padahal aku ingin sekali bercakap-cakap panjang-panjang dengan ayah. ayah tidak menyapaku, ayah tidak menanyakan kabar aku, dan ayah tidak mencium pipiku lagi. ada apa dengan ayah? aku terus bertanya-tanya dalam hati hingga aku tertidur lelap.
keesokan paginya begitu aku bangun ayah sudah tidak lagi berada dirumah, ayah sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali sebelum aku bangun. aku ingin sekali bersama ayah dipagi hari seperti ini. kapan ayah akan punya waktu seperti dulu lagi? itulah pertanyaan yang selalu melayang-layang didalam ubun-ubun kepalaku. ah..aku mendesah ringan dengan penuh kepiluan hati.
***
lagi, malam ini aku menunggu ayah pulang . aku benar-benar rindu sama ayah. aku ingin makan bersama ayah, dan ayah pun sudah mulai jarang menyapaku begitu juga menatap wajahku, kali ini aku tidak tertidur disofa, aku terus menunggu hingga larut malam. dan tepat pada pukul 11 malam ayah baru pulang. ayah tidak menatap aku, ayah berlalu begitu saja kedalam kamar meskipun aku berkali-kali memanggil ayah, ayah tetap saja berlalu tanpa menatap wajah aku sdikit pun. aku mengetuk pintu kamar ayah" ayah...ayah..zakky rindu sama ayah" dan ayah membuka pintu.
"zakky semakin lama semakin nakal ya...zakky mau ayah pukul ya" ayah lalu keluar dari kamar ayah sambil membawa sapu" cepat pergi tidur kalo tidak ayah akan memukulmu"
aku menggeleng-gelengkan kepala seraya menangis " zakky rindu sama ayah" aku mengembangkan kedua tanganku untuk memeluk ayah, ayah malah memukul kaki ku dengan amat keras, aku menahan rasa sakit, aku menangis tanpa bersuara. ayah menyeret aku kedalam dapur lalu memukuli tubuh ku berkali-kali, setelah itu ayah membenamkan kepala aku kedalam bak air mandi yang begitu dingin, aku meronta-ronta, aku sulit bernafas, berkali-kali aku berteriak dan menangis tetapi ayah semakin ganas menyiksa aku. setelah itu kepalaku dibenturkan kedinding hingga berdarah, ayah mengambil sebilah pisau lalu mendekatkan pisau itu kearah leherku.
tangan ayah bergetar memegangi pisau itu " pisau ini akan memotong kepala zakky kalo zakky nakal dan tidak patuh sama ayah. ayah tidak punya waktu untuk mu lagi zakky, zakky tau tidak pekerjaan ayah sangat banyak sekali, ayah sibuk sangat, ayah pusing memikirkan pekerjaan ayah, zakky faham..kalo zakky faham cepat sekarang pergi tidur"
aku menatap mata ayah, sinar mata ayah begitu redup begitu berapi-api, seolah orang yang ada dihadapanku ini bukanlah ayah melainkan orang lain. apakah ini ayahku? apakah ini benar ayahku? apakah ini ayah ku? aku bangkit lalu berjalan dengan langkah pelan sambil menahan rasa sakit dikepala dan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhku, tubuhku membiru, darah terus saja menetes tiada henti dari kepalaku, aku menangis karena sakit sekali. aku mencoba mengobati luka-luka itu dengan tanganku sendiri. aku membalut dan membungkus kepalaku dengan kain seadanya agar darah yang menetes itu berhenti, aku menangis sambil terpaku mengingati wajah ayah yang begitu berbeda, wajah ayah yang begitu lain.. menangis pun percuma saja tak akan bisa mengubah semua keadaan ini. aku mencoba untuk tidur sambil mengingati masa-masa dulu ketika ayah memeluk dan mencium pipiku dengan amat sayangnya kepadaku, aku membawa kenangan itu hingga kedalam mimpiku dan berharap dapat menghapus sedikit rasa perih dari luka yang menganga disetiap tubuhku ini.

keesokan harinya aku sakit parah. aku demam tinggi. seharian aku tidur dan belum makan sesuap nasi pun, tak ada tenaga untuk berjalan. ayah memanggil namaku berkali-kali tetapi aku tidak menyahutnya karena aku tertidur pulas sambil menggigil karena demam tinggi. ayah masuk kedalam kamarku dan menemukan aku tertidur dengan amat pulasnya, ayah melihat kedua tanganku bergetar dengan sangat hebat. ayah mengamatiku dan menyentuh kepala aku, ayah mendesah panjang, tanpa berkata apapun ayah menggendong aku untuk dibawa ke rumah sakit. aku tak sadarkan diri, seluruh wajahku pucat pasi. ayah sama sekali tidak mengeluarkan kata sepatah pun. ayah hanya diam. diam seribu bahasa.


by : jiki ramdani
jiki ramdani blog
ayah berjalan dengan langkah sempoyongan, kedua matanya menerawang jauh kedepan. aku berjalan mengekor mengikuti kemana ayah pergi, setelah lama berjalan akhirnya ayah berhenti tepat didepan pintu kamar mayat rumah sakit, disana jenazah kakak aku, arif, disimpan. ayah membuka pintu itu lalu berjalan masuk, aku dengan langkah kecil mengikuti dari belakang, aku bersembunyi dari balik pintu. aku melihat ayah berdiri memandangi jenazah kakak arif yang ditutupi kain putih. sesekali ayah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, terdengar oleh kedua telingaku ada suara rintihan hati yang menangis yang tertahan dari dalam mulut ayah. aku terpaku,aku juga tak kuasa menahan keadaan seperti ini. aku menghembuskan nafas lalu berlari kesuatu tempat untuk menenangkan diri. disana aku duduk sambil kembali mengingati saat-saat ketika arif masih hidup.
"zakky itu mau jadi ikan" kata arif ketika itu
"benarkah itu ayah?"tanya aku pada saat itu kepada ayah
ayah tersenyum. kemudian tanganku dicubit oleh arif.
"aduh"
"sakit tau"
aku ketika itu langsung menangis. lembaran demi lembaran kenangan tentang arif berputar-putar didalam ubun-ubun kepalaku. cubitan tangan kakak arif seperti masih terasa hingga kini, aku memegangi tanganku yang dulu pernah dicubit oleh kakak arif. aku menangis, butiran air mataku membasahi tanganku. aku lalu berkata dengan menahan isak tangis yang meburu " kakak arif,cubit aku lagi...kalo kakak arif tidak ada lalu siapa yang akan mencubit tangan aku..aku rindu cubitan kakak...aku ingin bersama kakak arif yang nakal itu..aku ingin ada kakak arif hari ini...kakak arif...zakky..zakky benar-benar sayang sama kakak arif..zakky tidak bohong tau...zakky serius tau...zakky merindukan kakak arif...kakak arif..kakak arif..kakak arif" aku menangis sekuat-kuatnya. dari kejauhan ayah melihatku, ayah lalu datang langsung memeluk aku. aku menangis dalam pelukan ayah. ayah memelukku dengan sangat erat.
***
"hasil pemeriksaan sementara..isteri anda mengalami komplikasi yang cukup parah...menurut hasil pemeriksaan kami..isteri anda keguguran..ia tengah hamil dua bulan..ditambah lagi ia memiliki penyakit jantung yang sangat kronis...isteri anda juga memiliki penyakit leukemia stadium 2" kata dokter faisal
ayah terdiam, mulutnya bergetar " isteriku hamil dua bulan" antara percaya dan tidak ayah tertawa sendiri lalu ayah berkata lagi" dan isteriku keguguran,dan itu berarti dua nyawa telah pergi, aku ....aku telah kehilangan anak-anakku.." ayah bergetar ketakutan
"isteriku pasti akan baik-baik saja kan dokter?"
dokter itu menggelengkan kepalanya, tampak ada sedikit keraguan diwajah dokter faisal
"peluang untuk hidup hanya 2%...dan itu pun belum pasti...dia tidak bisa bertahan lama"
ayah menarik lengan dokter faisal, digenggamnya erat-erat lengan dokter faisal, jantung ayah berdetak tak beraturan" sembuhkan isteriku dok..aku mohon..aku mohon...berapa pun biayanya akan aku bayar..aku mohon..aku mohon" ayah menangis
"saya hanya manusia biasa, saya akan berusaha menyelamatkan isteri anda...berdoa lah...keputusan akhir hanya tuhan yang menentukan bukan saya..."

aku melihat ayah tampak murung, wajahnya kusam, terlihat ada garis lelah yang terbentang diwajah ayah. besok adalah hari pemakaman kakak arif, aku tahu ayah sangat sedih sekali. keadaan ibu tak pasti, entah baik atau tidak.

tepat pada jam11 malam aku dibangunkan oleh ayah, aku dibawa kekamar ibu, aku melihat ibu sedang berusaha mencoba untuk bangkit sambil dibantu oleh ayah, ibu tampak kurus sekali. wajah ibu tak berwarna, pucat pasi tetapi aku menemukan seulas senyuman hangat mengembang diwajahnya. ibu memeluk aku dengan lembutnya,ibu mengsusap kepala aku.
"zakky anak ibu yang tersayang, zakky anak ibu yang tersayang, zakky tampak kurus sekali, sudah makan belum sih?"
"sudah bu"
ibu tersenyum hangat sekali, sinar matanya mengalahkan rasa kantuk yang merayap didalam mataku. sinar mata ibu seolah memberikan semangat yang begitu besar tetapi mengapa aku merasakan bahwa sinar ini tak akan pernah lagi bisa aku lihat..sinar mata ibu..aku mencoba menatap mata ibu lebih dalam..mata ibu seolah berbicara sesuatu yang tak aku fahami.
"sekarang sudah malam, zakky tidur lah..zakky tidak boleh tidur lewat..zakky harus cepat-cepat tidur" aku menguap berkali-kali, ayah membawa aku kekamar untuk tidur.
setelah aku tidur ayah kembali kekamar ibu, disana ayah dan ibu bercakap-cakap.
"kenapa ibu tidak bilang sama ayah bahwa ibu sedang hamil 2 bulan, kalo ayah tahu ibu dalam keadaan seperti ini tentu ayah akan membatalkan jalan-jalan itu."
"ibu ingin memberi kejutan untuk zakky, arif dan ayah...ibu sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara kepada kalian...ya sudahlah semua sudah terjadi."
ayah memeluk ibu, mencium kening dan pipi ibu
"ayah takut sekali..ayah sangat takut sekali...berjanjilah untuk tetap hidup untuku dan untuk zakky....ayah tidak mau kehilangan ibu" ibu menutup mulut ayah dengan jari-jemarinya
"siapa bilang ibu akan meninggalkan ayah dan zakky. ibu akan selalu berada bersama kalian"
ayah membenamkan wajahnya didalam jari-jemari ibu.
malam semakin larut, angin berhembus perlahan..daun yang kering berjatuhan dari dahan pohon.

***
ayah berlari-lari sambil berteriak memangil dokter, dua suster langsung bergerak maju kemar ibu. " isteri anda sudah meninggal" bagai mendengar halilintar disiang bolong. ayah bergeter begitu mendengar kata-kata kedua suster itu, ayah berjalan menuju tubuh ibu yang kaku. " kata ibu..ibu tidak akan meninggalkan ayah..kata ibu...ibu tidak akan meninggalkan zakky...ayah mencintai ibu...cintaku padamu begitu luas dan dalam tetapi mengapa ibu pergi...ayah ingin ikut..ayah ingin ikut...tapi..tapi bagaimana dengan zakky..bagaimana dengan zakky...bagaimana caranya untuk memberi tahu bahwa ibu pergi selamanya kepada zakky.................jawab isteriku..ayo jawablah..jawab...jawab..jawab" ayah mengguncang-guncangkan tubuh ibu, tapi ibu tetap saja membisu.
kedua suster itu membawa jenazah ibu kedalam ruangan zenajah, kebetulan disana juga ada zenajah kakak arif yang siap untuk dikebumikan.
ayah sangat sedih sekali, terlebih aku..begitu tahu bahwa ibu pergi untuk selamanya.
air mata seolah tiada henti-hentinya membasahi kedua pipiku...hidup ayah berantakan begitu juga aku.

hari itu juga ibu dan arif dimakamkan, dua orang yang tercinta akan segera dimakamkan. ayah memeluk aku tanpa ada sepatah kata yang terucap, aku mencoba untuk tegar dan kuat. untunglah dihari pemakan itu aku tidak menangis. aku diam dan ayah pun diam. tak ada kata cuma nafas kebekuan yang tercium oleh rasa yang berduka.

setelah ibu dan arif meninggal, cuma aku dan ayah saja yang masih tersisa dirumah ini. rumah yang penuh dengan kenangan manis. ah..aku mendesah kebimbangan karena sukma ini bergetar tiada henti.. dinding-dinding kamar dan seluruh ruangan seolah bercerita tentang suatu masa dimasa lalu..aku dan ayah mulai berantakan..semanjak saat itu ayah menjadi seorang yang pendiam..ayah hanya berkata beberapa patah kata saja..ayah selalu pergi..ayah selalu menyendiri..ayah selalu bekerja dengan kuatnya..mungkin bagi ayah dengan cara seperti itu ayah bisa melupakan segala kenangan yang ada dan yang masih tersisa.

aku? aku mencoba menjadi zakky..zakky yang tak lagi harus menangis..zakky yang tak lagi mendapat ciuman dipipi oleh ayah dan ibu. aku membuka gorden kaca jendela, aku melihat hujan turun dengan amat derasnya. segumpalan kabut menyebar membentuk ornamen bias yang tak biasa. disetiap malam aku menangis, aku selalu memergoki ayah pulang malam hari dalam keadaan mabuk berat. hidup ayah benar-benar berantakan tanpa ibu dan arif. hujan terus saja turun.
jiki ramdani blog
Hari ini ayah mengajak aku, ibu dan kakak arif pergi jalan-jalan kesebuah tempat yang masih ayah rahasiakan, sebelum aku pergi aku memasukan ikan warna-warni yang mati dan yang masih hidup kedalam kotak ikan kecil, dengan perasaan sedih aku memandangi ikan warna-warni itu.
"aku akan membawamu serta, aku ingin kalian tinggal disuatu tempat, jika aku melihat sungai atau kolam maka aku akan memasukan kalian kedalam kolam atau sungai itu, kalian jangan menggangap aku akan membuang kalian, kalian adalah ikan warna-warniku yang terbaik dan tersayang, aku takut kalo kalian tinggal sama aku nanti akan menggaggu pertumbuhan kalian, lihat itu, kawan-kawan kalian yang lainnya mati karena aku tidak begitu memperhatikannya, kalian jangan membenci aku ya, aku sayang sangat sama kalian tau, selamanya kalian akan selalu ada dihatiku wahai ikan warna-warniku yang tersayang" setelah berkata seperti itu, aku menangis, aku melihat dengan seksama ikan warna-warni itu berlarian dengan sedih.
"zakky cepat keluar dari kamarmu, kita sudah menunggumu didalam mobil, kita akan segera berangkat" teriak ayah dari dalam mobil. aku langsung bergegas menemui mereka keluar, aku langsung masuk kedalam mobil, aku duduk dibelakang bersama kakak arif.
"hei zakky apa yang kau bawa itu?"tanya kakak arif sambil menatap kotak ikan warna-warni aku.
"ini ikan warna-warni"jawab aku dengan nada sedikit sedih
"mereka juga ikut dibawa?"
aku hanya mengagguk pelan tanpa berkata sepatah apapun.
mobil melaju dengan cepat, didalam perjalanan aku tertidur, berkali-kali kakak arif membangunkan aku" lah kenapa ni, kok tidur, bangun zakky bangun....lihat pemandangannya indah sekali"arif menyentuh kaca mobil sambil menunjuk kearah depan."lihat ada laut..itu laut zakky..itu laut"kata arif dengan penuh kegirangan.
aku mengucek-ngucek kedua mataku mencoba melihat apa yang dikatakan oleh arif" mana..."
"itu"
"uwaaaa yeyeyeyeyeyey laut" aku berteriak kegirangan, aku senang sekali.
ayah tertawa " ermmmm zakky suka laut ya"
aku menggangguk pelan
ibu menoleh kebelakang sambil berkata" ingat jangan mandi dilaut ya"
aku terkejut mendengar ibu berkata seperti itu, aku memelas untuk meminta izin agar diijinkan mandi dilaut
"yah ibu , mana bisa seperti itu, kaki terasa gatal jika tidak mandi, boleh ya bu, please,please, please, please" pintaku kepada ibu dengan harapan bisa diijinkan mandi dilaut oleh ibu.
"tidak bisa...nanti kalo zakky tenggelam dilaut bagaimana?"
"tapi kan aku akan hati-hati, nanti ada kakak arif yang temani aku mandi disana" aku lalu menoleh kearah kakak arif
"apa?mandi dilaut..aku tidak mau ah..zakky sendiri saja yang mandi dilaut"
aku tiba-tiba marah sendiri, aku menutup wajah aku dengan kain.
"zakky boleh mandi dilaut kok, nanti ayah yang akan temani zakky mandi dilaut"kata ayah.
aku lalu berteriak kencang sekali"horeeeeeee aku akan mandi dilaut bersama ayah..yeyeyeyeyeye....aku akan mandi dilaut..aku akan mandi dilaut..yeyeyeyeyeyeye"
mobil bergerak sangat cepat sekali, tanpa terasa mobil akan menuju pantai, aku dan arif tak henti-hentinya memandangi laut dari dalam mobil, aku sudah tidak sabar ingin mandi dilaut.
akhirnya mobil berhenti dibibir pantai, aku langsung membuka pintu mobil, tak lupa aku membawa kotak yang berisi ikan warna-warni itu.
"zakky apa yang kau bawa itu?"tanya ayah.
"ikan warna-warni"
"mereka ikut dibawa juga yah"
"iya..zakky ingin memasukan mereka kedalam laut boleh tak ?"
"ermmmmmm boleh"
ayah mencium pipi aku sekali.
lalu kami menggelar tikar diatas pasir, ibu mempersiapkan makanan dan minuman, betapa lezatnya makanan dan minuman itu, aku membantu ibu membawa makanan untuk disimpan diatas tikar.
"ibu aku mau ke kesana, melihat laut dari dekat boleh tidak?"
"hati-hati yah"
"ok"
aku lalu pergi ketepi pantai untuk menyaksikan laut dari arah dekat, angin laut bertiup sangat kencang, ombak menggulung-gulung dengan dahsyatnya, burung walet terbang melayang dengan riang mereka bersiul-siulan, aku senang sekali, aku mengeluarkan ikan warna-warni itu dari dalam kotak, satu persatu aku mengeluarkan mereka.
dari kejauhan ayah melambaikan tangannya dan kemudian ayah mendekati aku sambil berlari
"wah zakky sedang apa sih?"tanya ayah
"zakky sedang melepas mereka kealam bebas"
ayah membantu aku melepas ikan itu, ada yang hidup dan ada juga yang mati, aku memeluk ayah, "zakky pasti meridukan mereka"kata aku sedih. ayah mengusap kepala aku pelan-pelan.
"kita mandi disana yuk"
lalu aku dan ayah mandi ditepi pantai, ayah memegangi aku sambil mebawa aku ketengah laut, aku gemetaran, aku sedikit takut sebenarnya, aku menutup mata "ayah aku takut sekali"
"jangan takut kan ada ayah"
aku gemetaran ketakutan, aku memegangi tangan ayah erat-erat. ayah berusaha membujuk aku agar tidak takut.
"wahhhh ayah dan zakky lagi mandi dilaut yah...aku mau juga ah"kata arif, arif dengan cepat berenang dan mendekati kami, maklum lah arif itu sudah cukup besar jadi dia berani berenang. ayah, arif dan aku mandi dan berenang bersama dilaut, kami bermain disana, lama sekali. dari kejauhan ibu berteriak memanggil kami" cepat kemari, sudah waktunya kalian makan, jangan terlalu lama berenang dilaut"teriak ibu dari kejauhan.
lalu kami bergegas menemui ibu, aku melihat begitu banyak sekali makanan yang ada, aku jadi bingung mau makan apa karena aku suka semuanya. kami makan dengan lahapnya hingga tak ada yang tersisa.
sore harinya kami mempersiapkan diri untuk pulang kerumah, sebelum pulang aku mendekati laut sambil berkata" ikan warna-warniku, aku akan selalu merindukan kalian, jaga diri ya, aku akan merindukan kalian, aku akan sangat merindukan kalian, selamat tinggal ikan warna-warniku yang tersayang" aku membalikkan badan lalu masuk kedalam mobil, mesin mobil dihidupkan lalu mobil bergerak perlahan-lahan. tak henti-hentinya aku memandangi pemandangan laut yang semakin lama semakin jauh dari pandangan mataku.
dalam perjalanan menuju pulang hujan turun dengan amat derasnya, perlahan-lahan kabut tipis menyebar hingga ayah kebingungan, ayah berusaha menerobos gumpalan kabut itu, ayah tidak mengira bahwa didepan itu ada sebuah mobil yang sedang diparkir, karena kaca depan mobil tak terlihat akhirnya ayah menabrak mobil itu.
****
aku tidak ingat apa yang terjadi berikutnya, aku merasa entah berada dimana, semua tampak gelap dan kosong, kepalaku terasa sakit sekali, aku mencoba membuka kedua mataku perlahan-lahan, aku melihat cahaya lampu yang begitu terang, cahaya lampu itu menyilaukan pandangan mataku, setelah beberapa saat kemudian baru aku sadar bahwa aku tengah berada didalam rumah sakit, kepalaku diperban sangat tebal, lengan kiriku diperban, aku lalu terkejut, dengan sisa-sisa kekuatan yang aku punya aku bangkit dari tempat tidurku untuk mencari tahu dimana ayah, ibu dan kakak arif. aku merasa takut sekali. aku menemui ayah, baju ayah penuh dengan darah, kepala ayah diperban. ayah memberitahukan aku bahwa kakak arif telah meninggal dunia, kakak arif mengeluarkan banyak darah, stok darah dirumah sakit tidak mencukupi hingga kakak arif tak kuat dan meninggal dunia. aku sedih sekali, aku benar-benar ingin menjerit, aku ingin menangis dan mengeluarkan semua airmata yang ada didalam mataku ini, aku lemas sekali. aku lalu bertanya" ayah ibu tidak apa-apakan? ibu pasti baik-baik saja kan?"tanya aku sambil berurai airmata. ayah hanya diam, ayah menggeleng-gelengkan kepala" entah lah, ibu sedang koma, keadaan ibu sangat kritis, zakky berdoa saja ya, ayah tidak bisa berkata apa-apa sama zakky, ayah sedang sedih, ayah kehilangan putra ayah yang pertama, arif kenapa kamu harus meninggal sih"kedua mata ayah menitikkan airmata, aku memeluk ayah erat-erat.
hari itu adalah permulaan dari lembaran kisah sedihku yang mendalam.
esok, entahlah apa yang akan terjadi?
jiki ramdani blog
hari ini langit tampak begitu mendung, aku melihat awan dilangit tampak menghitam. mungkinkah ini pertanda akan turun hujan? aku merasakan desiran angin yang berhembus begitu menyejukkan, terasa hingga kedalam pinggiran tulang-belulangku. aku bangun dari tidurku, aku menguap berkali-kali, aku berjalan ke arah akuarium ikan warna-warni yang aku letakkan didalam kamarku. betapa terkejutnya aku begitu melihat beberapa ekor ikan warna-warniku mati, hanya tersisa satu dua saja yang masih hidup. aku membulatkan kedua mataku yang bulat mencoba untuk meyakinkan bahwa apa yang aku lihat itu tidak benar, tubuhku terasa lemas. aku mendekati akuarium ikan warna-warni itu, aku menyentuh kaca akuarium itu sambil menunjuk kearah salah satu ikan kesayangan aku, si belang hitam dan si merah, mereka mati, mereka diam tak bergerak. aku sangat sedih lalu aku berlari kedalam gudang, duduk disudut tembok sambil memeluk kedua lututku. aku menangis sambil menahan isak tangis agar semua orang tidak tahu bahwa aku sedang menangis, aku tertunduk, airmataku terus saja berjatuhan, bagai air hujan yang turun begitu derasnya.
"zakky, acara televisi kesayanganmu sudah dimulai, lihat film kartun doraemonmu itu sudah dimulai" teriak ayah dari ruang keluarga.
biasanya begitu ayah memberitahukan bahwa film doraemon sudah dimulai aku langsung datang dengan tergesa-gesa, tunggu punya tunggu, ayah jadi penasaran ingin mencari zakky, tak seperti biasanya zakky absen dalam menonton film doraemon. ayah masuk kedalam kamar zakky" zakky, film doraemon kesayanganmu itu sudah dimulai, kenapa zakky belum juga keluar sih, dimana sih zakky sekarang, ayah tahu pasti zakky sedang mengumpat yah" ayahmengedarkan pandangan matanya kesegala penjuru kamar zakky, ayah mencari zakky didalam lemari baju, dibawah tempat tidur. hingga pandangan matanya tertuju kepada akuarium ikan warna-warni itu ayah terkejut, ayah mengamati ikan warna-warni itu dengan seksama"pasti zakky sedang menangis disuatu tempat" kata ayah, ayah langsung berlari mencari zakky, seluruh ruangan rumah sudah ayah masuki, cuma gudang belakang saja yang belum ayah masuki, ayah lalu masuk kedalam gudang belakang, ayah berjalan perlahan, samar-samar ayah mendengar suara zakky yang sedang menangis tersedu, suara tangis yang tertahan.
ayah mendapati zakky sedang duduk disudut tembok, kepala zakky menunduk. ayah mencoba berjalan pelan agar tidak megejutkan zakky, ayah membungkukkan badan lalu duduk didepan zakkky" ayah mengerti kenapa zakky menangis"kata ayah.
aku langsung mengangkat wajahku, dipeluknya ayah erat-erat, aku menangis sekuat-kuatnya didalam pelukan ayah. aku menangis lama sekali hingga baju kemeja ayah basah oleh air mata aku, ayah sesekali menciumi kedia pipiku yang basah bersimbah airmata.
"anak ayah yang tersayang jangan menangis dong, ayah juga jadi ikut sedih, sudah ya jangan menangis terus, ayah jadi sedih juga tau"
"uwaaaa uwaaaa uwaaaa zakky kehilangan ikan warna-warni zakky yang paling zakky sayangi, zakky sedih sangat, zakky benar-benar berduka, zakky kehilangan sangat "
"zakky jangan menangis sebegitunya ah, semua yang hidup pasti akan mati, zakky harus merelakan ikan warna-warni itu, ikan warna-warni itu juga sayang sangat sama zakky, sudah ya jangan menangis lagi, malu dong sama teman-teman zakky, zakky masih menangis kan zakky sudah besar sekarang"
aku terus menangis didalam pelukan ayah sekuat-kuatnya, ayah menggendong aku, ibu yang melihat aku tampak keheranan terlebih kakak arif
"waduh sikecil zakky menangis lagi ya, kalo setiap hari zakky menangis nanti seisi rumah ini akan kebanjiran" kata arif.
ibu mengusap kepala aku"kenapa sih zakky ?"tanya ibu kepada aku.
aku masih tetap menangis didalam pelukan ayah, ayah lalu menjawab pertanyaan ibu" ikan kesayangan zakky sebagian ada yang mati, zakky sangat sedih sekali, tuh lihat zakky menangis sampai membasahi baju ayah"
"zakky ini kalo menangis kuat sekali yah, sudah..sudah ..jangan menangis lagi..nanti baju ayah bisa basah kuyup" seru ibu.
" eh dengar tidak kata-kata ibu itu...zakky sudah dong jangan menangis terus, ayah jadi ingin menangis juga tau, ermmmm kalo zakky menangis terus nanti ayah tidak akan mengajak zakky jalan-jalan" kata ayah.
aku lalu berhenti menangis, wajah aku benar-benar basah oleh airmata, ibu menyeka wajahku dengan kain, ayah membereskan rambutku yang kusut. aku ditaruh diatas sofa, ayah mencium pipi aku sekali " nah kalo begini kan zakky jadi manis, wajah zakky basah kuyup, mana senyuman zakky yang manis itu, ayah ingin lihat?"pinta ayah lembut
aku mencoba mengembangakn seulas senyuman manis, ayah dan ibu tersenyum begitu melihat aku. kakak arif malah tertawa " ha ha ha ha ha ha zakky mirip seperti doraemon"
"iya, mirip juga sih" ayah menyambung kata-kata arif
"ermmm, iya mirip sekali"ibu ikut melanjutkan kata-kata ayah.
aku lalu menangis sambil berteriak" uwaa uwaa uwaa doraemonkan seekor robot kucing ajaib, dia punya kepala yang bulat, tubuh yang bulat..aku tidak mau disamakan dengan doraemon..uwaa uwaa uwaa uwaa uwaa kalian jahat uwaa uwaa uwaa uwaa" kata aku sambil menangis tersedu-sedu.
"ya ampun zakky malah menangis lagi, arif, ibu dan ayah cuma bercanda tau. zakky ini kuat sekali yah kalo menangis tuh, ermmm sayang zakky jangan menangis lagi dong."bujuk ayah.
arif malah menertawakan aku dari belakang punggung ibu.
***
by: jiki ramdani
jiki ramdani blog
malam harinya aku terkena demam, ibu sibuk menjaga aku yang terus saja menangis, aku tertidur tetapi mengigau. ibu mengompress kepala aku dengan handuk kecil yang telah dibasahi oleh air hangat, seluruh tubuh aku terasa begitu panas dan juga dingin. aku menangis terus semalaman. ayah menatap wajah aku yang sedang tertidur" kasian zakky, ayah sayang sama zakky, zakky cepat sembuh yah, kalo seperti ini ayah jadi khawatir tau" sesekali ayah mencium pipi dan kening aku"muah, muah, anak ayah sudah besar sekarang, cepat besar ya sayang" ayah memeluk aku.
"tubuh zakky panas sekali"kata ayah.
ibu mengelap kening aku yang penuh dengan keringan dingin
"zakky ini tadi sore main hujan-hujanan, ibu sudah mewanti-wanti pasti zakky main hujan-hujanan, dia itu nakal tapi lucu. kalo melihat zakky main hujan-hujannan sambil lari-lari ibu jadi bahagia karena dia bisa tertawa lepas, senyuman dia itu membuat ibu gemas. tapi zakky ini mudah sekali sakit, tubuh zakky sangat lemah, ibu jadi khawatir sekali" ibu menyandarkan kepalanya kebahu ayah, ayah terseyum lalu katanya" iya, kalo zakky main hujan-hujanan dia tampak begitu manis sekali, apalagi kalo dia lari-lari sambil main lumpur tanah, ..ayah jadi ingat sewaktu pertama kali zakky main hujan-hujanan, waktu itu zakky baru berusia 3 tahun, zakky sangat takut sekali melihat hujan, zakky selalu mengumpat dibelakang punggung ayah atau zakky selalu minta digendong, pernah suatu kali ayah mengajak dia main hujan-hujannan, begitu air hujan membasahi kepalanya zakky langsung menangis , dia lucu sekali, lalu ayah mengajak dia main lumpur tanah, zakky juga takut menyentuh tanah, setelah ayah membuatkan sebuah bangunan kecil dari lumpur tanah zakky jadi tidak takut lagi, malah kalo zakky melihat air hujan zakky jadi selalu ingin main hujan-hujanan..zakky itu lucu sekali..selalu membuat kita khwatir dengan kenakalan yang khasnya itu" ayah terseyum lembut, sesekali ayah mencium pipi aku. aku sedang tertidur pulas sekali, aku mengigau, meracau sesuatu" tangkap, tangkap belalang itu jangan sampai terbang..uwaaaaaaaaaa ada kupu-kupu..wah banyak sekali kupu-kupu itu" kata aku sambil tertidur, keringat terus saja mengalir dengan deras dari seluruh tubuh aku.
"zakky ini kalo tertidur suka bicara sendiri, kalo dia mengigau dan meracau, selalu yang diucapkannya itu belalang dan kupu-kupu, pasti dia sangat suka hewan-hewan itu" kata ayah
ibu lalu memotong kata-kata ayah" zakky itu sukanya pada ikan warni-warni, ayah ingat tidak sewaktu hari ulang tahun zakky kemarin, dia meminta ikan warna-warni sebagai hadiahnya"
ayah tertawa " oh iya ya..dia itu sukanya sama ikan warna-warni, begitu ayah membelikan ikan warna-warni dia langsung happy..melompat-lompat kesana-kemari.." ayah lalu berfikir sejenak, lalu meneruskan kata-katanya" bagaimana kalo minggu depan kita jalan-jalan ke laut saja, kita memancing ikan, zakky dan arif pasti suka"
malam semakin larut tetapi ayah dan ibu tidak bisa tidur, ayah dan ibu menjaga zakky sampai shubuh tiba.
****
ayam berkokok kencang sekali tanda pagi telah tiba. setelah mandi ayah langsung bergegas kekamar zakky, ayah menyentuh kepala zakky untuk memastikan apakah demamnya sudah sembuh, kepalanya masih sedikit hangat. ayah membangunkan zakky pelan-pelan" zakky sayang bangun dong, sudah pagi nih, ayah ingin melihat wajah zakky yang lucu itu"
pelan-pelan aku membuka kedua mata aku, aku melihat wajah ayah yang sedang tersenyum kearah aku, aku mencoba tersenyum" ayah selamat pagi ayahku"
"selamat pagi anakku yang tersayang" jawab ayah.
ayah mengajakku untuk segera sarapan pagi, dimeja makan arif dan ibu sudah menanti.
"anak ibu sudah sembuh belum sih?"tanya ibu ke aku.
"si zakky kecil nakal sudah sembuh belum sih?" kata arif sambil mengikuti kata-kata ibu.
aku membulatkan kedua mata aku, aku menatap ke arah kakak arif" sudah, zakky sudah sembuh wahai kakak arif ku yang nakal juga" kata aku sambil tertawa kearah arif.
"sudah-sudah kalian jangan bercanda terus, nanti ayah takut kalian malah bertengkar,sekarang kalian makan yah yang banyak, kalian harus sehat dan kuat"kata ayah.
aku dan arif berlomba menyantap makanan yang ada dimeja makan. ayah berdehem " ehem hem kalian ini kenapa sih ,makan harus hati-hati jangan cepat-cepat, seperti sedang berlomba makan saja" tambah ayah.
"zakky makan sayur yah..arif juga jangan makan ayam goreng terus, arif harus makan sayur"
"aku tidak mau, aku tidak suka sayur, aku mau makan ayam goreng saja" kata arif sambil memakan ayam goreng.
"pokoknya kalian berdua harus makan sayur" ayah menambahkan sayur bayam kedalam piring aku dan arif. aku dan arif terpaksa memakan sayur itu meski sebenarnya kami tidak suka makan sayur bayam.
arif mengambil ayam sayap ayam goreng, aku langsung marah " itu punya aku, aku suka sayap ayam goreng, pokoknya aku mau sayap ikan goreng itu" kata aku.
arif tidak mempedulikan aku, dia malah memakan sayap ayam goreng itu.
aku menangis " aku mau sayap ayam goreng itu..aku mau sayap ayam goreng itu"
"zakky jangan seperti itu, makan yang mana saja, makan tidak boleh pilih-pilih, lihat dipiring masih banyak ayam goreng" ayah menunjukkan ayam goreng itu, dipiring yang tersisa cuma kepala, dan kaki ayam goreng. aku lalu menagis " zakky kan suka sayap ayam goreng, zakky tidak mau makan kaki dan kepala ayam goreng, pokoknya zakky mau sayap ayam goreng"
"zakky, kita ini sedang makan. jangan bertingkah seperti itu, ayah tidak suka" bentak ayah kepada aku, aku lalu diam sambil memakan makanan itu.

by: jiki ramdani
jiki ramdani blog
sudah 3 minggu aku terbaring dikamar tidurku karena luka akibat dari terkena pecahan vas bunga, selama 3 minggu itu aku tidak bisa bergerak,tidak bisa berbuat apa-apa. untunglah pada minggu ketiga berikutnya luka ku itu sembuh, lukanya sudah mengering dan perban yang membungkus kakiku bisa dibuka. aku senang sekali karena aku bisa bermain lagi. ayah dan ibu memperingatkan aku berkali-kali agar selalu hati-hati kalo aku bermain.
hari ini hujan turun dengan derasnya, aku melihat kearah jarum jam, jam menunjukkan pukul 2 siang,tapi langit sudah tampak gelap gulita, melihat derasnya air hujan aku jadi ingin pergi keluar untuk bermain air hujan, berlari-lari ditengah air hujan dan bermain lumpur tanah bersama teman-teman. aku membuka jendela kamarku pelan-pelan,diluar tampak anak-anak seusiaku tengah bermain hujan-hujanan,mereka tampak begitu asyik bermain. aku lalu berteriak kearah mereka " teman-teman bolehkah aku ikut bermain" teriakku kepada mereka. mereka mengangguk, melambaikan tangan kearah aku sambil berteriak " zakky cepat temani kami bermain, mari kita main lumpur tanah,kita buat istana kerajaan".
aku sudah tidak sabar lagi ingin segera pergi keluar, tapi tiba-tiba aku teringat akan ayah dan ibu,dalam hatiku bertanya"apakah mereka mengijinkan aku bermain hujan-hujannan, pasti aku tidak boleh bermain" kata aku dalam hati. aku lalu berfikir-fikir sejenak untuk mencari cara agar bisa keluar, kemudian aku mengamati keadaan dalam rumah,aku melihat ibu tengah tidur pulas didalam kamar,arif tengah bermain kapal-kapalan didalam kamarnya, syukurlah keadaan aman. tanpa fikir panjang lagi aku langsung pergi keluar. begitu air hujan membasahi kepala dan seluruh tubuhku, aku merasakan air hujan begitu dingin tetapi aku senang sekali. aku bergabung bersama teman-teman, berlari-lari kesana-kesini, bermain lumpur tanah. betapa senang hatiku pada saat itu, aku tertawa bersama teman-teman.
"mari kita membuat istana lumpur tanah" ajak anto kepada aku dan semua teman-teman yang lain.
lalu kami membuat istana lumpur tanah namun karena hujan turun dengan amat derasnya jadi istana lumpur tanah milik kami menjadi hancur, tetapi kami tidak kecewa justeru kami merasa senang.

ibu bangun dari tidurnya lalu bergegas pergi kekamar zakky
"zakky kamu sedang apa,cepat keluar..temankan ibu masak yuk" ibu membuka pintu kamar aku,didalam kamar ibu tidak menemukan aku. ibu lalu pergi kekamar arif tetapi didalam kamar arif ibu tidak menemukan aku. ibu mencari keseluruh ruangan kamarrumah. begitu ibu tiba diruang tamu, ibu melihat pintu rumah terbuka sedikit, ibu menghampiri pintu itu lalu menutupnya kembali. dalam hati ibu jadi teringat akan zakky" mungkin zakky main keluar, dia pasti main hujan-hujannan" kata ibu.
ibu mengambil payung besar lalu pergi keluar mencari aku.

ibu berteriak-teriak sambil memanggil-manggil nama aku "zakky..zakky..zakky"
aku yang tengah asyik bermain lumpur dikejutkan oleh rafka " itu ibumu memanggil"
"aku tidak mendengarnya"jawab aku.
rafka mencoba meyakinkan aku "aku dengar suara ibu kamu memanggil-manggil nama kamu"
dari kejauhan aku melihat ibu tengah menengok kekanan dan kekiri, sesekali aku mendengar suara ibu memanggil nama aku, semakin lama semakin terdengar jelas meski suara gemuruh air hujan berpacu dengan suara ibu.
"ayo kita lari" ajak aku
"kenapa kita harus lari?" tanya rafael keheranan
"kalo ibu aku tahu nanti aku kena pukul,pasti kalian juga kena pukul ibu kalian" kata aku menjelaskan.
kami semua buru-buru berlari tetapi sayang ibu mengetahui kami, ibu mengejar kami dari kejauhan sambil berteriak " hei anak-anak...zakky mau lari kemana kamu...awas yah nanti kalo ibu berhasil menangkap kamu...ibu pasti akan menghukum kamu"
aku dan kawan-kawan aku berlari dan terus berlari, karena tidak hati-hati akhirnya aku terpeleset jatuh ketanah, "aduh" kata aku, kulitku sedikit tergores oleh kayu tajam yang runcing, kaki ku berdarah lagi, aku menahan rasa sakit itu lalu berdiri tetapi aku tidak bisa, aku merasa sakit sekali.
ibu akhirnya menemukan aku, ibu melihat aku yang sedang menangis menahan rasa perih, ibu menghembuskan nafasnya pelan-pelan" zakky memang anak nakal, sudah ibu bilang jangan main hujan-hujanan zakky malah main hujan-hujanan, jadi begini jadinya, baru juga zakky sembuh dari luka malah terluka lagi....cepat pulang..kalo ayah tahu..ayah pasti bisa memarahi zakky" kata ibu sambil terus memarahi aku, aku tidak bisa berdiri, ibu memapah aku dan kemudian menggendong aku, aku menangis pelan menahan rasa perih yang terus merayapi kaki aku.
setiba dirumah aku lalu dibawa kekamar mandi untuk dibersihkan dari segala kotoran lumpur tanah yang menempel ditubuh aku, setelah bersih aku disuruh berbaring di sofa, ibu mengobati luka aku, aku berkali-kali menjerit karena luka ini begitu serius, aku sungguh tak kuat menahannya.
"sakit ibu..aduh..sakit sekali..sakit sekali" kata aku sambil menangis.
arif berdiri didepan aku, dia menatap aku, lalu katanya" zakky sih main tidak ajak kakak arif, jadi begini nih jadinya, kalo zakky main sama kakak kan kakak bisa menjaga zakky" arif tertawa.
ibu melototi arif " kalian berdua tetap tidak boleh main hujan-hujanan lagi, arif juga kalo main hujan-hujanan lagi nanti ibu dan ayah akan menghukum kalian berdua" bentak ibu serius.
sejam kemudian ayah pulang dari kerja, ayah mendengar suara tangisan aku dari luar, ayah lalu berkata" ermmmmm anak kecil itu menangis lagi yah..katanya sudah berjanji tidak akan menangis lagi, kenapa sih zakky ini selalu menangis terus, ayah jadi heran deh" ayah membuka jas hujan yang melekat dari tubuhnya, baju kemeja ayah sedikit basah, ibu membantu membawa tas ayah kedalam kamar.
ayah memandangi aku dengan tatapan menyeramkan, aku mencoba menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan aku. ayah menggeleng-gelengkan kepala." pasti zakky ini habis main hujan-hujannan yah" ayah mencoba menyentuh kedua tangan aku yang dingin, aku masih tetap menutupi wajah aku, ayah menarik tangan aku " ayah ingin melihat wajah zakky yang nakal itu"
aku diam tak menjawab kata-kata ayah dan masih tetap tidak mau membuka wajah aku.
"zakky takut sama ayah yah, zakky ayah tidak akan memarahi zakky kalo zakky tidak nakal, nah kalo sudah seperti ini lalu siapa yang direpotkan, kalo zakky demam bagaimana, ibu dan ayah yang sibuk merawat zakky,tahulah kalo zakky demam ayah dan ibu tidak bisa tidur" begitu ayah melihat kakiku diperban, ayah langsung terkejut, dilihatnya kaki aku dengan seksama" baru juga sembuh zakky malah terluka lagi" kata ayah. ayah mendekati aku lalu mencium pipi aku, aku masih tetap menutupi wajah aku dengan kedua telapak tangan aku.
"anak ayah yang tersayang ini ternyata nakal, zakky sayang sama ayah tidak sih? kalo sayang kenapa selalu membuat ayah dan ibu cemas dan khawatir. zakky zakky zakky" ujar ayah, aku mencoba menatap ayah, aku menangis sedu sedan "uwaaaaaaaaaaaaaaaa zakky sayang sangat sama ayah dan ibu" aku menyeka pipiku yang basah. arif tiba-tiba datang dan berkata " kalo zakky sayang juga tak sama kakak arif yang baik ini" arif tertawa terkekkeh-kekeh. aku menatap arif sekilas lalu memalingkan wajah " zakky tidak sayang sama kakak arif karena kakak arif selalu mencubit aku, kakak arif juga kalo makan kueh selalu sendiri dan tak mau bagi sama zakky." kata aku
tiba-tiba ayah berkata" zakky tidak boleh berkata seperti itu, biar bagaimanapun juga arif adalah kakak zakky, abang zakky. zakky harus sayang sama kakak arif, coba sekarang zakky katakan kepada kakak arif bahwa zakky sayang sama kakak arif" perintah ayah.
aku sedikit malas jika mengatakan sayang sama kakak arif, aku melihat dia sedang tersenyum-senyum ke arah aku, dia menatap aku terus, aku jadi serba salah, ya sudah lah aku lalu mengatakan sayang kepada kakak arif dengan berat hati " zakky juga sayang sama kakak arif tapi kalo kakak arif mencubit aku lagi, aku tidak mau sayang lagi sama kakak arif tau."kata aku.
arif tersenyum pelan.
"kalo zakky sudah sembuh nanti ayah janji akan ajak zakky,arif dan ibu pergi jalan-jalan. sudah lama kita tidak jalan-jalan" begitu ayah mengatakan kata-kata itu, aku dan arif melompat kegirangan, aku dan arif senang mendengarnya" benarkah itu ayah, wah zakky sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sembuh, zakky benar-benar ingin jalan-jalan lagi...uwaaaaaaaaaaaaa"kata aku dengan penuh kegirangan.
"memangnya kita mau jalan-jalan kemana sih, yah?" tanya arif.
"rahasia, nanti kalian juga akan tahu sendiri" ayah tersenyum manis.
"ye ye ye ye ye ye ibuuuuuuuuuuuuuuu kita akan jalan-jalan kesebuah tempat yang dirahsiakan oleh ayah..horeeeeeeeee" kata aku bahagia.

by : jiki ramdani
jiki ramdani blog
"Ibuuuuuuuuuuu wanginya masakan ibu" aku lalu turun dari pelukan ayah
aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku yang bulat, mulutku bergumam sesuatu, ayah dan ibu tertawa menyaksikan aku yang kegirangan menatap masakan ibu yang siap disantap.
ibu meletakkan piring kecil dihadapan aku, ayah membantu aku menambahkan dua centong nasi, ibu menambahkan ikan dan sayur mayur kedalam nasiku. sedapnya.
ketika aku hendak menyantap makanan itu tiba-tiba ayah memperingatkan sesuatu

"ingat apa yang telah ajarkan kepada zakky? kata ayah serius
aku lalu mengerti

"berdoa dulu sebelum makan" kata aku, setelah aku berdoa lalu menyantap makanan itu dengan lahapnya.

"eh..hati-hati..makan jangan terburu-buru" kata ibu
"aku ingin pintar memasak seperti ibu" aku terseyum gembira sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutku.

"kalo makan jangan banyak bicara" seru ayah sambil tersenyum.
selesai makan aku lalu disuruh ayah untuk segera mandi, tapi aku tidak mau.
"ah..zakky mau main dulu"

"kalo zakky belum mandi nanti siapa yang mau bermain dengan zakky, lihat teman-teman zakky, pasti semuanya terlihat cantik dan tampan, dan wangi pula" kata ayah.
ibu melototi wajahku sambil mengambarkan ekspresi wajah yang sedang marah.

"ok ok ok ok zakky mau mandi..zakky mau mandi" aku sedikit takut melihat wajah ibu, tapi dihati kecil aku, aku tertawa terkekeh-kekeh.
****

malam ini aku tidur bersama kakak aku, kakak aku memang agak sedikit nakal, dia selalu menakut-nakuti aku dengan menyamar sebagai hantu kecil, aku selalu menjerit ketakutan lalu berlari kedalam kamar ayah dan ibu. aku datang dengan wajah penuh ketakutan dan sedikit menangis.

"uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ayah ibu ..kakak arif nakal tau, dia mau aku menangis terus, aku jadi takut, pokoknya aku mau tidur sama ayah dan ibu..uwaaaaaaaaaaaaaaaaaa" kata aku sambil menangis meronta-ronta.
ayah menyernyitkan kedua alisnya. ibu menatapku dengan tatapan penuh arti.

"zakky ini umurnya berapa tahun sih?" tanya ayah kepada aku.
"enam tahun"jawan aku

"itu tandanya zakky tidak boleh tidur sama ayah dan ibu lagi, zakky sudah besar, zakky harus mandiri, kalo zakky mau jadi anak ayah, zakky harus ikuti kata-kata ayah.

" aku lalu memotong kata-kata ayah." tapi kan aku takut, kalo kakak arif berubah menjadi hantu sungguhan bagaimana?"aku lalu menangis lagi.
ibu mengusap-ngusap kepala aku, membela aku. dipeluknya aku erat-erat.

"zakky boleh tidur sama ibu hanya malam ini saja yah. ok"

aku lalu mengangkat tangan aku sambil membentuk huruf V dengan kedua jari-jemariku.
ayah lalu mengendong aku. diciumnya kepala aku sambil berkata." wah wah anak ayah ini ternyata masih bayi..ermmmmm...tapi zakky ini lucu juga..janji yah malam ini adalah malam terakhir zakky tidur sama ayah dan ibu...ermmmmmmmm mana kata kata "ok"

"ok" punya zakky itu..ayah ingin dengar"ayah terseyum.
aku pun terseyum sambil mengatakan " OK ..OK..OK.."
ayah dan ibu tertawa terbahak-bahak.

"cepat tidur anakku yang tersayang"

malam ini adalah malam yang terindah yang pernah aku alami. aku tidur bersama ayah dan ibu. ini adalah malam yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. firasatku selalu mengatakan bahwa aku akan kehilangan orang yang amat aku cintai, aku buang jauh-jauh firasat buruk ku itu. aku berharap aku selamanya bisa seperti ini.

****
"ha ha ha ha ha ha zakky zakky zakky masih kecil payah, dasar penakut..

" arif tiba-tiba berkata seperti itu, tentu saja kata-kata arif itu membuat aku menjadi marah. tapi aku tahu aku sudah berjanji sama ayah bahwa aku tidak boleh menangis lagi. aku lalu membalas kata-kata kakak arif itu" biarkan saja, yang penting zakky disayang oleh ayah dan ibu" aku menggerak-gerakkan mulutku.
arif lalu mencubit aku setelah itu dia lari keluar. cubitan kakak arif memang dahsyat sampai-sampai tangan aku memerah, aku tak tahan lalu menangis.

"uwawawawawawawaaaawa"
tangisan aku membuat ayah dan ibu geram. ibu mendatangi aku sambil bertanya keheranan

"menangis lagi..zakky kan sudah berjanji tidak akan menangis lagi"

aku menunjukkan tangan aku yang memerah kearah ibu
"aku dicubit oleh kakak, sakit..uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
ayah berdehem dari dalam kamar

"siapa sih yang sedang meanangis itu, erm ayah tahu pasti si kecil zakky "
aku lalu berhenti menangis. ibu mengusap wajah ku yang basah kuyup oleh airmata

"zakky ini sudah besar kok masih saja menangis"

"kan zakky terluka" kata aku polos
ibu mencoba mengamati tangan aku itu. dilihatnya berkali-kali

"mana ada luka, ini cuma memerah..zakky ini ada-ada saja"
aku lalu tertawa ibu pun tertawa.

*****
hari minggu sudah tiba. biasanya aku suka menonton film-film kartun seperti doraemon, casper dan lain-lain. aku selalu duduk didepan televisi tanpa ada yang boleh mengganggu aku, termasuk kakak arif yang selalu mengganti channel tv-nya. aku sudah tahu kakak arif sedang berjalan kearah aku dengan cara diam-diam. dia ingin merebut remote televisi dari tangan aku. aku buru-buru mendekap remote itu.

"ha...mana remote itu..sekarang giliran kakak yang menonton televisi"

"tidak boleh..ini kan film kesukaan aku..."

"film kartun tidak berkualitas...kakak mau menonton satria baja hitam..kamen raider..hiattttttttttttttt..kakak mau jadi pahlwan seperti itu"

aku lalu mengikuti gaya kakak aku itu
"aku juga mau jadi mamen raidel"

"tidak boleh ..zakky jadi doraemon saja..doraemon kan lucu seperti zakky"

aku lalu mengeluarkan jurus-jurus sakti, tanpa sengaja jurus-jurus sakti aku itu mengenai kepala kakak, kakak tak terima lalu membalas jurus-jurus sakti itu. kami akhirnya beradu jurus-jurus sakti. pertarungan kami itu sangat sengit dan dahsyat. aku menarik baju kakak, lalu kakak menarik kedua tangan aku. pertarungan itu menimbulkan suara gaduh, tanpa sengaja vas bunga yang berada diatas meja menjadi pecah terkena tendangan maut aku.

aku lalu sempoyongan hingga pada akhirnya kaki aku terkena pecahan vas bunga itu.
aku menjerit sekuat-kuatnya, darah segar mengalir dengan deras dari kaki ku. kakak arif lalu berlari memberitahukan ibu

"ibu ..ibu ..ibu.. zakky berdarah..dia berdarah banyak sekali"

mendengar laporan dari arif itu, ibu langsung bergegas menemui zakky.
zakky menangis sambil menahan rasa sakit, ibu dengan cekatan langsung mengobati luka itu, secepat kilat kaki zakky sudah dibungkus kain perban. aku terus saja menangis.

"dasar anak nakal..zakky memang nakal...arif juga nakal...kalian jangan bermain-main diruangan..sudah ibu bilang berkali-kali..kalian memang nakal"

lalu ibu membawa aku kedalam kamar, aku disuruh berbaring dan tidak boleh bergerak.
sore harinya begitu ayah pulang dari kantor, ayah langsung memarahi aku, bukannya disayang-sayang, aku malah kena marah ayah.

"zakky memang nakal..ayah tak mau mencium pipi zakky lagi.."
aku lalu menangis " uwaaaaaaaa maafkan zakky, zakky tadi cuma main-main jadi pahlawan mamen raidel saja...zakky kan tidak sengaja..uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
ayah mengusap kepala aku, seraya berkata

"ya sudah lah...ayah mau mencium zakky yang nakal ini...ermmmmmm kasian zakky..."
"uwaaaaaaaaaa sakit"