jiki ramdani blog
di Perbatasan antara hari kemarin, sekarang dan mungkin juga esok
karya jiki ramdani
bogor, 6 januari 2010

ini adalah tentang suasana yang mungkin hanya aku saja yang bisa merasakan
ini juga tentang rasa yang aku rasakan disepanjang tahun yang sudah berlalu dan mungkin akan berlanjut hingga tahun tahun berikutnya,
aku tahu aku tidak bisa terus memikirkan tentang pohon bombax ceiba
aku juga tidak bisa memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa melipat lautan yang begitu meluas
terpaksa aku tanggalkan segala rasa yang pernah membuat jantung ini terkejut karena merindu
terpaksa aku tanggalkan segala harapan yang terus saja menusuk tulang tengkorak kepalaku
aku sedikit gamang dan mungkin akan lunglai hingga tidak ada satupun jiwa yang mendekatiku untuk memagut betapa gusarnya ruang lambungku,
aku sedikit gamang, risau dan mungkin terdiam dalam jutaan fikiran.
aku sadar bahwa semua yang aku lihat hanyalah fatamorgana
apakah kalian tahu bahwa aku selalu berlutut, berdoa dan mungkin bertasbih didalam kecilnya ruang nadiku
jujur aku merindukan kamu, wahai penggetar hatiku
jujur aku merindukan kamu, wahai penggetar hatiku
diperbatasan antara hari kemarin, sekarang dan mungkin juga esok
aku tetap merindukan jiwangnya nafasmu
bahkan diperbatasan antara malam menuju siang
aku selalu gelisah memikirkan ruang lambungku yang semakin menyempit
aku selalu gelisah memikirkan ruang ruang lain didalam tubuhku yang selalu membeku
aku berdiri diantara perbatasan malam dan pagi, hari ini dan esok.
perbatasan? perbatasan? perbatasan
aku tirakat dan memagut bathinku bersama sang pemilik raga
aku menulis sajak ini dibawah kumpulan sajak jiwangnya nafasmu
0 Responses

Posting Komentar