jiki ramdani blog
1
tersentap hati mendengar jawapan dari rasa yang ku harapkan.
tersentap hati merasakan getaran cinta yang menggebu lewat nafasmu yg jiwang.
gumpalan rasa yang mengendap-ngendap diantara puluhan tulang rusukku menimbulkan patahan rindu yg menyulitkan jalur urat nadiku hingga ubun ubun membuncah tak peduli seberapa parah hancurnya fikiran karena merindukan wujudmu.
hati pun harus mengerti jika yg tercinta memandang selain rupaku.
hatiku hanya bisa merangkai patahan rindu dan tak mampu memaksamu untuk tetap selalu menjiwangkan nafasmu untuk aku hirup.
asalkan kau tetap menyimpan memori kasih diantara tulang tengkorak kepalamu, aku akan tetap merajut jalinan rasa tentang cinta yg aku palu disetiap ujung dan sisi tulang rangu cintaku,
jiwangnya nafasmu dapat kurasakan meski berjuta juta kilometer aku berada jauh dari jangkauan sinar matamu,
cintaku bernafas dari jiwangnya hatimu.

2
by: jiki ramdani

jauhnya jangkauan rasa tak mampu menghentikan kembang kempis dadaku yang selalu memanggil sang nama.
namun jiwaku sadar akan hatiku yg tak bersayap, ku tak mampu menjamin tetapi ku mencoba membela hatiku untukmu, cinta.
jika rindu dan rasa saling bertemu menimbulkan getaran ngilu yg dapat membunuh rasa benciku.
jiwangnya nafasmu membangkitkan suasana jaman tak berpenghuni.
jiwangnya nafasmu membunuh segala bakteri yg hidup untuk menggerogoti inti hatiku
jika tulang rangu cintaku terbakar menjadi abu, aku akan tetap menciptakan suasana jaman tak berpenghuni agar yang engkau dengar adalah seruanku yg menggila.
jiwangnya nafasmu membentuk kabut tebal ketika hujan tak jadi turun disuatu senja ketika sinar matahari layu begitu saja.

3
By : jiki ramdani

jiwangnya nafasmu menarik ilusi fikiranku kedalam jaman tak berpenghuni
butiran nafas yg mencair dari jiwangnya nafasmu memaksa paru-paruku memompa rindu yg berlebih
sedu sedan kudengar sang dewi mentasbihkan sunyi diujung waktunya
hati berbisik memaksa fikiranku untuk menjiwangkan nafasku.

4
By: jiki ramdani

menghitam rupa langit tadi siang, butiran sejuk berjatuhan mewartakan pilu.
nafasmu merambat masuk kedalam lubang pori-pori kulitku
senyawa nafas yg bernyawa melayang bagai hantu mencari teman diujung malam.
baru kusadari senyawa nafas yg kuhirup adalah jiwamu yg jiwang.
ku peluk lembut lelembut rindumu yg menyembul bagai kabut.
tak perduli meski harus merana, aku akan selalu mentasbihkan namamu ketika dadaku terasa sesak.
0 Responses

Posting Komentar